Model, Metode dan Strategi Pembelajaran SKI

Februari 28, 2018 Unknown 0 Comments

MODEL, METODE DAN STRATEGI 
UNTUK PEMBELAJARAN SKI

A.    Model, Strategi dan Metode dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori  dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran terkait dengan pemilihan strategi dan pembuatan struktur metode, keterampilan dan aktivitas peserta didik.
Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya dalam pembelajaran. strategi pembelajaran merupakan suatu konsep yang dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Langkah operasional atau cara yang digunakan untuk menerapkan strategi pembelajaran yang dipilih disebut metode pembelajaran. Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar dan mendasari aktivitas guru dan peserta didik. Metode adalah cara menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran dan telah disusun berdasarkan prinsip dan sistem tertentu.[1]
Yang dimaksud dengan sejarah kebudayaan Islam adalah studi tentang riwayat hidup Rasulullah SAW, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada murid-murid sebagai contoh teladan yang utama dari tingkah laku manusia yang ideal, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.[2]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud model, strategi dan metode dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah proses interaksi antara peserta didik dengan guru dalam pembelajaran SKI dengan menggunakan model, strategi dan metode untuk digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan belajar yang efektif, efisien, menyenangkan dan membuat para peserta didik aktif dalam proses pembelajaran SKI, yang mana SKI adalah pelajaran yang menyangkut masa lalu dan kisah-kisah para pendahulu Islam, seperti pembelajaran tentang riwayat hidup Rasulullah SAW, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada murid-murid sebagai contoh teladan yang utama.

B.  Model Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) dalam Pembelajaran   Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan pendidikan karakter di sekolah. Dengan kata lain, CTL dapat dikembangkan menjadi salah satu model pembelajaran berkarakter, karena dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui proses penerapan karakter dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. CTL memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktikkan karakter-karakter yang dipelajarinya dan yang telah dimilikinya secara langsung. Pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar. Kondisi tersebut terwujud, ketika peserta didik menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara menggapainya.[3]

.      1.   Lima Elemen Belajar yang Konstruktif
Pelaksanaan pembelajaran kontekstual dipengaruhi oleh berbagai  faktor yang sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam diri peserta didik (internal), dan dari luar dirinya atau dari lingkungan di sekitarnya (eksternal). Sehubungan dengan itu, Zahorik mengungkapkan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai berikut.
a)         Pembelajaran harus memerhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
b)        Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagian yang lebih khusus (dari umum ke khusus).
c)         Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman dan pembentukan karakter tertentu, dengan cara:
1)      menyusun konsep sementara,
2)      melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain,
3)      merevisi dan mengembangkan konsep.
d)        Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
e)         Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.[4]

      2. Komponen-komponen dalam model Contextual Teaching and Learning (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berusaha mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata peserta didik tampaknya patut dijadikan sebagai model alternatif pendidikan karakter. CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para peserta didik memahami makna dari materi pembelajaran yang dipelajari, dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat delapan komponen yang harus dipenuhi sebagai berikut:
·         membuat hubungan-hubungan yang bermakna (making meaningful  connections),
·         melakukan pekerjaan yang berarti (doing significant work),
·         melakukan pembelajaran yang diatur sendiri (self regulated learning),
·         melakukan kerja sama (collaborating),
·         berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking),
·         membantu individu untuk tumbuh dan berkembang (nurturing the individual),
·         mencapai standar yang tinggi (reaching high standards), dan
·         menggunakan penilaian yang real dan autentik (using real and authentic assessment).
Banyak cara efektif untuk menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Setidaknya enam metode berikut ini dapat ditempuh:
·         menghubungkan pembahasan konsep nilai-nilai inti etika sebagai landasan karakter dengan keseharian peserta didik,
·         memasukan materi dari bidang lain di dalam kelas,
·         dalam mata pelajaran yang tetap terpisah terdapat topik-topik yang saling berhubungan,
·         mata pelajaran gabungan yang menyatukan isu-isu moral,
·         menggabungkan sekolah dan pekerjaan,
·         penerapan nilai-nilai moral yang dipelajari di sekolah ke masyarakat.[5]
3.      Langkah-langkah dalam model Contextual Teaching and Learning (CTL)
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut.
·         Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
·         Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
·         Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
·         Ciptakan masyarakat belajar.
·         Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
·         Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
·         Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.[6]

         4.        Karakteristik pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
·         Kerjasama.
·         Saling menunjang.
·         Menyenangkan, tidak membosankan.
·         Belajar dengan bergairah.
·         Pembelajaran terintegrasi.
·         Menggunakan berbagai sumber.
·         Siswa aktif.
·         Sharing dengan teman.
·         Siswa kritis guru kreatif.
·         Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain.
·         Laporan kepada orang tua bukan hanya raport tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.[7]

      5.      Tujuh Prinsip Belajar dalam Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
      Pembelajaran kontekstual mencakup tujuh prinsip belajar, yakni sebagai berikut.
1.      Inkuiri
Inkuiri dilakukan dengan mengikuti siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menyelidiki, menganalisis, dan merumuskan baik secara mandiri maupun bersama kelompok. Peserta didik dilatih untuk mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis, mulai dari membuat inferensi, menyimpulkan, menghitung, mengidentifikasikan hubungan, menerapkan konsep, dan membuat perbandingan. Untuk melakukan inkuiri, diperlukan kemampuan antara lain:
a.       Mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab melalui penyelidikan ilmiah.
b.      Merencanakan dan melakukan penyelidikan ilmiah. 
c.       Menggunakan alat-alat dan teknik yang sesuai untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data.
d.      Menggunakan data untuk mengembangkan suatu penjelasan yang logis.
e.       Berpikir secara kritis dan logis untuk membuat hubungan antara bukti dan penjelasan.
f.       Mengenali dan menganalisis penjelasan dan membuat prediksi alternatif.
g.      Mengomunikasikan prosedur-prosedur dan penjelasan-penjelasan ilmiah.
h.      Menggunakan pemikiran logis dan sistematis dalam seluruh aspek inkuiri ilmiah.
2.      Bertanya
a.       Pertanyaan digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir peserta didik.
b.      Pertanyaan digunakan oleh peserta didik selama melakukan kegiatan berbasis inkuiri.
3.      Konstruktivisme
Konstruktivisme diperlukan untuk membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal peserta didik. Pengalaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar bermakna. Peserta didik diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri, terutama melalui:
a.       Menggali fenomena atau ide.
b.      Membicarakan hipotesis bersama teman.
c.       Memprediksi dan memberikan alasan terhadap prediksinya.
d.      Merevisi pendapat/pemikiran sebelumnya.
4.      Masyarakat belajar
Masyarakat belajar dibutuhkan agar peserta didik:
a.       dapat berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
b.      bekerja sama dengan temannya untuk menciptakan pembe­lajaran yang lebih baik dari pada belajar sendiri.
5.      Penilaian autentik
Penilaian autentik diperlukan dalam upaya:
a.       Mengukur pengetahuan atau keterampilan siswa secara akurat.
b.      Mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau keterampilan.
c.       Penilaian produk atau kinerja.
d.      Menilai tugas-tugas kontekstual yang relevan.
e.       Memadukan penilaian proses dan produk
6.      Refleksi
Refleksi perlu dilakukan dalam upaya menilai pelaksanaan pembelajaran baik oleh guru maupun peserta didik. Refleksi dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Guru membimbing peserta didik untuk berpikir tentang apa yang telah dipelajari.
b.      Peserta didik menelaah dan merespons kejadian, aktivitas, dan pengalaman.
c.       Peserta didik mencatat apa yang telah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.
d.      Catatan refleksi dapat berupa jurnal, diskusi, ataupun hasil karya.
7.      Pemodelan
Pemodelan perlu dilakukan dengan cara:
a.       Berpikir sambil mengucapkan bagaimana pproses berpikir anda.
b.      Mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan peserta didik belajar.
c.       Melakukan yang guru inginkan agar peserta didik juga melakukan hal yang serupa.[8]
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakan bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar antan format program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.[9]

C.    Strategi Pembelajaran Interaktif dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Strategi pembelajaran interaktif mengutamakan aktivitas diskusi sesama peserta didik. Diskusi dan saling berbagi informasi memungkinkan peserta didik memberikan reaksi terhadap ide, pengalaman, opini, dan pengetahuan teman sejawat atau narasumber. Peserta didik dapat belajar mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan untuk mengorganisasikan pikiran serta mengem­bangkan alasan yang masuk akal (rasional).
Strategi pembelajaran interaktif dapat dilaksanakan untuk ukur­an kelompok yang bervariasi dan metode interaksi yang berbeda-beda. Pembelajaran dapat berupa diskusi kelas di mana tidak dibentuk kelompok, diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, atau peserta didik belajar berpasangan dalam mengerjakan tugas. Hal yang perlu dilakukan oleh guru adalah memberikan topik diskusi atau tugas, menentukan waktu diskusi, menentukan jumlah dan komposisi peserta didik dalam kelompok, dan menjelaskan teknik pelaporan. Pembelajaran interaktif membutuhkan penghalusan pe­ngamatan, aktivitas interpersonal, serta keterampilan dan kemampu­an melakukan intervensi baik oleh guru maupun oleh peserta didik.
Strategi pembelajaran interaktif jika diterapkan untuk melatih peserta didik dalam berbicara substansi dapat dikelompokkan dalam tiga jenis strategi, yaitu: strategi kuliah interaktif, strategi dis­kusi reflektif, dan strategi diskusi kelompok kooperatif. Beberapa strategi lain yang bervariasi juga dilakukan dalam pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung.[10]
Masing-masing strategi berbicara tersebut menggunakan bebe­rapa metode yang bervariasi. Contoh pemilihan metode pembelajar­an untuk strategi kuliah interaktif dideskripsikan sebagai berikut.
a.       Strategi Kuliah Interaktif
Strategi ini digunakan untuk menyampaikan informasi se­hingga peserta didik dapat mengolah informasi tersebut. Tahapan yang dapat digunakan untuk membuat strategi menjadi lebih efektif adalah sebagai berikut.
1)      Kuliah dimulai dengan menyajikan hal yang menarik, misal­nya menggunakan inkuiri Suchman, media video, dan sebagainya.
2)      Libatkan peserta didik secara aktif dalam belajar.
Guru melibatkan peserta didik untuk aktif belajar setelah menyampaikan informasi, misalnya dengan menggunakan metode bertanya dan menulis (question-all write), think pair share (TPS), whip around, note taking, dan sebagainya. Metode bertanya dan menulis dapat dilakukan ketika guru sedang menyampaikan informasi, di mana peserta didik diberi ke­sempatan bertanya, memikirkan pertanyaan tersebut, dan menulis jawabannya. Metode TPS dimulai dengan mem­bahas pertanyaan terbuka (divergen) yang diajukan oleh guru sehingga banyak kemungkinan jawaban yang dibahas oleh pasangan peserta didik. Guru berkeliling mendekati peserta didik (whip around) dan menstimulasi diskusi dengan me­nanyakan jawaban mereka atau pertanyaan yang telah di­ajukan.
3)      Bantu peserta didik merangkum informasi yang telah dipelajari.
Metode yang dapat diterapkan dalam membuat rangkum­an adalah meminta peserta didik menulis sintesis kalimat atau meringkas materi yang telah dipelajari.[11]
b.      Strategi Diskusi Reflektif
Strategi ini digunakan untuk melatih berbicara yang mem­butuhkan pemikiran yang mendalam, di mana peserta didik harus memahami, menganalisis, dan mensintesis informasi yang didiskusikan. Diskusi kelas merupakan kesempatan bagi pe­serta didik untuk merefleksikan hasil belajarnya dan kemampu­an berpikir kritis. Tahapan yang dilakukan dalam upaya melibat­kan semua peserta didik untuk berpikir dan mengemukakan pendapatnya adalah sebagai berikut.
1)      Rancang dan menggunakan pertanyaan "Socrates" (dialog Socrates).
Metode pertanyaan/dialog Socrates dapat digunakan untuk memancing peserta didik untuk berpikir dan taktik yang sangat jitu untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
2)      Berikan kesempatan berpikir dan menulis bagi peserta didik.
Metode yang dapat digunakan, misalnya question all write, think pair share, dan menulis hasil diskusi.
3)      Gunakan teknik “memanggil” yang bervariasi agar peserta didik terlibat dalam diskusi.[12]
c.       Strategi Diskusi Kelompok Kooperatif
Strategi ini dapat digunakan untuk melibatkan peserta didik berbicara dan berpikir mendalam tentang apa yang dibicarakan. Diskusi kelompok dikembangkan oleh Burt Bower dan Spencer Kagan, di mana satu kelompok terdiri dari tiga atau empat peserta didik. Pertanyaan yang dibahas dalam diskusi kelompok sebaiknya bersifat terbuka (open ended), selanjutnya perwakilan kelompok memaparkan hasil diskusi pada semua peserta didik yang lain (presentasi kelas). Tahapan yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi ini adalah sebagai berikut.
1)      Kumpulkan bahan untuk aktivitas kelompok.
2)      Rancang pertanyaan untuk aktivitas kelompok.
3)      Diskusi kelompok peserta didik.
Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk melibatkan peserta didik berdiskusi dalam kelompok, misalnya: numbered heads together (NHT), pertanyaan Socrates, dana mendorong kelompok untuk merespons ide masing-masmg.
4)      Atur agar peserta didik memberikan respons individu terhadap materi yang didiskusikan.
Salah satu strategi yang umum diterapkan dalam beberapa model pembelajaran adalah diskusi kelas. Hasil belajar yang dapat diperoleh dengan melaksanakan diskusi kelas adalah pemahaman konseptual, keterampilan berkomunikasi dan proses berpikir, serta keterlibatan peserta didik dalam belajar.[13]
Diskusi berbeda dengan resitasi karena dalam diskusi terjadi percakapan dan berbagi ide/pendapat antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik, sedangkan pada resitasi terjadi pemeriksaan oleh guru terhadap pemahaman peserta didik. Resitasi adalah pertukaran informasi secara tanya-jawab dengan peran guru sebagai pemeriksa untuk mengetahui informasi faktual atau pemahaman konsep yang dikuasai peserta didik.[14]
D.    Metode Diskusi dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. Oleh karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi: 1) diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa muncul secara spontan sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentukan, 2) diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, padahal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas sehingga keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru sebab dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari.
Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi. Pada metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya. Pada metode diskusi bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa. Materi pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.
Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Pertama, diskusi kelompok. Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Pengatur jalannya diskusi adalah guru. Kedua, diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa submasalah. Setiap kelompok memecahkan submasalah yang disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap kelompok.[15]
a.       Jenis-jenis diskusi
Terdapat bemacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain:
1)      Diskusi Kelas
Diskusi kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Prosedur yang digunakan dalam jenis diskusi ini adalah: 1) guru membagi tugas sebagai pelaksanaan diskusi, misalnya siapa yang akan menjadi moderator, siapa yang menjadi penulis, 2) sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit, 3) siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator, 4) sumber masalah memberi tanggapan, dan 5) moderator menyimpulkan hasil diskusi.
2)      Diskusi kelompok kecil
Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.
3)      Simposium
Simposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Simposium dilakukan untuk memberikan wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya tentang masalah yang dibahas, maka simposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.
4)      Diskusi panel
Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Diskusi panel berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiens tidak terlibat secara langsung, tetapi berperan hanya sekedar peninjau para panelis yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif perlu digabungkan dengan metode lain, misalnya dengan metode penugasan. Siswa disuruh untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.
5)      Seminar
Seminar merupakan bentuk pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah orang untuk melakukan kajian dan pembahasan suatu masalah (topik/tema) melalui gagas pikir dan tukar pendapat yang dipandu oleh seorang ahli. Sebagaimana dijelaskan dalam KBB, bahwa seminar merupakan pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli (guru besar, pakar, dan sebagainya). Seminar biasanya diawali oleh 'pembicara kunci' (keynote speaker) yang dimaksudkan untuk memberikan arah (benang merah) materi dan jalannya diskusi. Setiap pembicara membahas suatu topik/tema dan mengacu pada suatu tema seminar atau masalah utama yang dibahas.
6)      Lokakarya
Kegiatan lokakarya adalah bentuk pertemuan yang membahas masalah praktis/teknis/operasional yang biasanya merupakan tindak lanjut dari hasil seminar sehingga hal-hal yang bersifat konseptual dapat diturunkan ke dalam suatu produk yang siap untuk dikembangkan atau dilaksanakan, dan itulah nuansa berbeda antara seminar dan lokakarya. Misalnya lokakarya penyusunan tentang teknis penyusunan program sekolah, teknik penyusunan silabus. Dengan hasil tersebut para peserta akan dengan mudah menerapkan dan melaksanakan hasil lokakarya tersebut.[16]
b.      Langkah-langkah melaksanakan diskusi
Agar penggunan diskusi berhasil dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Langkah persiapan
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam persiapan diskusi di antaranya:
a)      Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang bersifat umum maupun tujuan khusus.
b)      Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c)      Menetapkan masalah yang akan dibahas.
d)     Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas dengan segala fasilitasnya, petugas-petugas diskusi seperti moderator, notulis, dan tim perumus, manakala diperlukan.
2)      Pelaksanaan diskusi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi adalah:
a)      Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat mempengaruhi kelancaran diskusi.
b)      Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, misalnya menyajikan tujuan yang ingin dicapai serta aturan-aturan diskusi sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.
c)      Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan diskusi hendaklah memerhatikan suasana atau iklim belajar yang menyenangkan, misalnya tidak tegang, tidak saling menyudutkan, dan lain sebagainya.
d)     Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
e)      Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas.
f)       Hal ini sangat penting, sebab tanpa pengendalian biasanya arah pembahasan menjadi melebar dan tidak fokus.
3)      Menutup diskusi
Akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi hendaklah dilakuan hal-hal sebagai berikut:
a)      Membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan sesuai dengan hasil diskusi.
b)      Me-review jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.[17]
c.       Kelebihan dan kelemahan metode diskusi
Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
·     Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
·  Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
·         Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Di samping itu, diskusi juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
Selain beberapa kelebihan, diskusi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
·    Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara.
·         Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
·         Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan.
·   Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol. Akibatnya, kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran.[18]

E.     Penerapan Model, Strategi dan Metode dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Suatu model, strategi dan metode dalam pembelajaran merupakan pola umum dan prosedur umum dalam pelaksanaan aktivitas pembelajaran. Guru dapat memilih sebuah model, strategi dan metode tertentu dalam membuat suatu rancangan atau desain pembelajaran tertentu. Sebuah desain pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik peserta didik, kondisi lingkungan belajar, dan sumber daya yang tersedia untuk pelaksanaan proses belajar mengajar.[19] Sebelumnya, tentu guru perlu mempertimbangkan output dan dampak pembelajaran dalam memilih sebuah model, strategi dan metode pembelajaran seperti, apa hal penting yang perlu disampaikan pada peserta didik, model, strategi dan metode apa yang cocok untuk pembelajaran peserta didik, serta apa dampak pembelajaran dan bagaimana implikasi selanjutnya terhadap peserta didik.[20]
Model Contextual Teaching and Learning (CTL), strategi interaktif dan metode diskusi ini tentunya saling berkaitan satu sama lainnya yang bertujuan ingin menciptakan suatu proses pembelajaran yang kondusif, efektif, efisien, menyenangkan dan membuat para peserta didik aktif dalam proses pembelajaran SKI.
Dalam penerapannya, model, strategi dan metode yang dipaparkan dalam makalah ini bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik melalui diskusi pembelajaran yang aktif tentang pembelajaran yang berhubungan dengan riwayat hidup Rasulullah SAW, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada peserta didik sebagai contoh teladan yang utama agar mereka dapat mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL), strategi interaktif dan metode diskusi dalam proses pembelajarannya.
Selain itu pendidikan karakter di lingkungan sekolah bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.[21]
Diharapkan dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL), strategi interaktif dan metode diskusi ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang aktif, efektif, efisien dan menyenangkan serta dapat mendasari aktivitas guru dan peserta didik.

0 komentar: