Model, Metode dan Strategi Pembelajaran SKI
MODEL, METODE DAN STRATEGI
UNTUK PEMBELAJARAN SKI
UNTUK PEMBELAJARAN SKI
A.
Model, Strategi dan Metode dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam (SKI)
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual berupa pola
prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori dan digunakan dalam mengorganisasikan proses
belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran terkait
dengan pemilihan strategi dan pembuatan struktur metode, keterampilan dan
aktivitas peserta didik.
Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya dalam pembelajaran.
strategi pembelajaran merupakan suatu konsep yang dipilih untuk mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien.
Langkah operasional atau cara yang digunakan untuk menerapkan
strategi pembelajaran yang dipilih disebut metode pembelajaran. Metode
pembelajaran digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar dan
mendasari aktivitas guru dan peserta didik. Metode adalah cara menyampaikan
materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran dan telah disusun
berdasarkan prinsip dan sistem tertentu.[1]
Yang dimaksud dengan sejarah kebudayaan Islam adalah studi tentang
riwayat hidup Rasulullah SAW, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk
yang diceritakan kepada murid-murid sebagai contoh teladan yang utama dari
tingkah laku manusia yang ideal, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan
sosial.[2]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud model, strategi dan
metode dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah proses
interaksi antara peserta didik dengan guru dalam pembelajaran SKI dengan
menggunakan model, strategi dan metode untuk digunakan dalam mengorganisasikan
proses belajar mengajar agar tercapai tujuan belajar yang efektif, efisien,
menyenangkan dan membuat para peserta didik aktif dalam proses pembelajaran
SKI, yang mana SKI adalah pelajaran yang menyangkut masa lalu dan kisah-kisah
para pendahulu Islam, seperti pembelajaran tentang riwayat hidup Rasulullah
SAW, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada
murid-murid sebagai contoh teladan yang utama.
B. Model Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning)
dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering
disingkat CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat
digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan pendidikan karakter di sekolah.
Dengan kata lain, CTL dapat dikembangkan menjadi salah satu model pembelajaran
berkarakter, karena dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada keterkaitan
antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata,
sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil
belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui proses penerapan karakter dalam kehidupan
sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan
memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. CTL memungkinkan
proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan
secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktikkan karakter-karakter
yang dipelajarinya dan yang telah dimilikinya secara langsung. Pembelajaran
kontekstual mendorong peserta didik memahami hakikat, makna, dan manfaat
belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa
belajar, bahkan kecanduan belajar. Kondisi tersebut terwujud, ketika peserta
didik menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana
cara menggapainya.[3]
. 1. Lima Elemen Belajar yang Konstruktif
Pelaksanaan pembelajaran kontekstual
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam diri
peserta didik (internal), dan dari luar dirinya atau dari lingkungan di
sekitarnya (eksternal). Sehubungan dengan itu, Zahorik mengungkapkan
lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai
berikut.
a)
Pembelajaran
harus memerhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
b)
Pembelajaran
dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagian yang lebih khusus (dari
umum ke khusus).
c)
Pembelajaran
harus ditekankan pada pemahaman dan pembentukan karakter tertentu, dengan cara:
1)
menyusun konsep
sementara,
2)
melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang
lain,
3)
merevisi
dan mengembangkan konsep.
d)
Pembelajaran
ditekankan pada upaya mempraktikkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
2. Komponen-komponen dalam model Contextual Teaching and Learning (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berusaha
mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata peserta didik tampaknya patut
dijadikan sebagai model alternatif pendidikan karakter. CTL adalah sebuah
proses pendidikan yang bertujuan menolong para peserta didik memahami makna
dari materi pembelajaran yang dipelajari, dengan cara menghubungkan
subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat delapan komponen
yang harus dipenuhi sebagai berikut:
·
membuat
hubungan-hubungan yang bermakna (making
meaningful connections),
·
melakukan
pekerjaan yang berarti (doing significant work),
·
melakukan
pembelajaran yang diatur sendiri (self
regulated learning),
·
melakukan
kerja sama (collaborating),
·
berpikir
kritis dan kreatif (critical
and creative thinking),
·
membantu
individu untuk tumbuh dan berkembang (nurturing the individual),
·
mencapai
standar yang tinggi (reaching high standards), dan
·
menggunakan
penilaian yang real dan autentik (using real and authentic assessment).
Banyak cara efektif untuk menghubungkan
pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Setidaknya enam metode
berikut ini dapat ditempuh:
·
menghubungkan
pembahasan konsep nilai-nilai inti etika sebagai landasan karakter dengan
keseharian peserta didik,
·
memasukan
materi dari bidang lain di dalam kelas,
·
dalam mata
pelajaran yang tetap terpisah terdapat topik-topik yang saling berhubungan,
·
mata
pelajaran gabungan yang menyatukan isu-isu moral,
·
menggabungkan
sekolah dan pekerjaan,
·
penerapan
nilai-nilai moral yang dipelajari di sekolah ke masyarakat.[5]
3. Langkah-langkah dalam model Contextual Teaching and Learning (CTL)
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang
studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam
kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh
dalam CTL adalah sebagai berikut.
·
Kembangkan
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,
dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
·
Laksanakan
sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
·
Kembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
·
Ciptakan
masyarakat belajar.
·
Hadirkan
model sebagai contoh pembelajaran.
·
Lakukan
refleksi di akhir pertemuan.
·
Lakukan
penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.[6]
4. Karakteristik pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
·
Kerjasama.
·
Saling
menunjang.
·
Menyenangkan,
tidak membosankan.
·
Belajar
dengan bergairah.
·
Pembelajaran
terintegrasi.
·
Menggunakan
berbagai sumber.
·
Siswa
aktif.
·
Sharing dengan teman.
·
Siswa kritis
guru kreatif.
·
Dinding dan
lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel,
humor, dan lain-lain.
·
Laporan
kepada orang tua bukan hanya raport tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
pratikum, karangan siswa dan
lain-lain.[7]
5. Tujuh Prinsip Belajar dalam Model
Pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual mencakup tujuh prinsip
belajar, yakni sebagai berikut.
1. Inkuiri
Inkuiri
dilakukan dengan mengikuti siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya,
menyelidiki, menganalisis, dan merumuskan baik secara mandiri maupun bersama
kelompok. Peserta didik dilatih untuk mengembangkan dan menggunakan
keterampilan berpikir kritis, mulai dari membuat inferensi, menyimpulkan,
menghitung, mengidentifikasikan hubungan, menerapkan konsep, dan membuat
perbandingan. Untuk melakukan inkuiri, diperlukan kemampuan antara lain:
a. Mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang dapat
dijawab melalui penyelidikan ilmiah.
b. Merencanakan dan melakukan penyelidikan ilmiah.
c. Menggunakan alat-alat dan teknik yang sesuai untuk
mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data.
d. Menggunakan data untuk mengembangkan suatu penjelasan yang
logis.
e. Berpikir secara kritis dan logis untuk membuat
hubungan antara bukti dan penjelasan.
f. Mengenali dan menganalisis penjelasan dan membuat
prediksi alternatif.
g. Mengomunikasikan prosedur-prosedur dan
penjelasan-penjelasan ilmiah.
h. Menggunakan pemikiran logis dan sistematis dalam
seluruh aspek inkuiri ilmiah.
2. Bertanya
a. Pertanyaan digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing,
dan menilai kemampuan berpikir peserta didik.
b. Pertanyaan digunakan oleh peserta didik selama
melakukan kegiatan berbasis inkuiri.
3. Konstruktivisme
Konstruktivisme
diperlukan untuk membangun pemahaman oleh diri sendiri dari
pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal peserta didik.
Pengalaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar
bermakna. Peserta didik diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri,
terutama melalui:
a. Menggali fenomena atau ide.
b. Membicarakan hipotesis bersama teman.
c. Memprediksi dan memberikan alasan terhadap prediksinya.
d. Merevisi pendapat/pemikiran sebelumnya.
4. Masyarakat belajar
Masyarakat
belajar dibutuhkan agar peserta didik:
a. dapat berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang
lain.
b. bekerja sama dengan temannya untuk menciptakan pembelajaran
yang lebih baik dari pada belajar sendiri.
5. Penilaian autentik
Penilaian
autentik diperlukan dalam upaya:
a. Mengukur pengetahuan atau keterampilan siswa secara
akurat.
b. Mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau
keterampilan.
c. Penilaian produk atau kinerja.
d. Menilai tugas-tugas kontekstual yang relevan.
e. Memadukan penilaian proses dan produk
6. Refleksi
Refleksi
perlu dilakukan dalam upaya menilai pelaksanaan pembelajaran baik oleh guru
maupun peserta didik. Refleksi dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Guru membimbing peserta didik untuk berpikir tentang
apa yang telah dipelajari.
b. Peserta didik menelaah dan merespons kejadian,
aktivitas, dan pengalaman.
c. Peserta didik mencatat apa yang telah dipelajari dan
bagaimana merasakan ide-ide baru.
d. Catatan refleksi dapat berupa jurnal, diskusi, ataupun
hasil karya.
7. Pemodelan
Pemodelan
perlu dilakukan dengan cara:
a. Berpikir sambil mengucapkan bagaimana pproses berpikir
anda.
b. Mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan peserta
didik belajar.
c. Melakukan yang guru inginkan agar peserta didik juga
melakukan hal yang serupa.[8]
Dalam pembelajaran kontekstual, program
pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang
berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama
siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program
tercermin tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic
assessment-nya.
Dalam
konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang
apa yang akan dikerjakan bersama siswanya. Secara
umum tidak ada perbedaan mendasar antan format program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran
konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas
dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih
menekankan pada skenario pembelajarannya.[9]
C.
Strategi Pembelajaran Interaktif dalam Pembelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI)
Strategi pembelajaran interaktif mengutamakan aktivitas diskusi
sesama peserta didik. Diskusi dan saling berbagi informasi memungkinkan peserta
didik memberikan reaksi terhadap ide, pengalaman, opini, dan pengetahuan teman sejawat atau narasumber. Peserta
didik dapat belajar mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan untuk
mengorganisasikan pikiran serta mengembangkan alasan yang masuk akal
(rasional).
Strategi pembelajaran interaktif dapat dilaksanakan
untuk ukuran kelompok yang bervariasi dan metode interaksi yang berbeda-beda.
Pembelajaran dapat berupa diskusi kelas di mana tidak dibentuk kelompok,
diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, atau peserta didik belajar berpasangan
dalam mengerjakan tugas. Hal yang perlu dilakukan oleh guru adalah memberikan
topik diskusi atau tugas, menentukan waktu diskusi, menentukan jumlah dan
komposisi peserta didik dalam kelompok, dan menjelaskan teknik pelaporan.
Pembelajaran interaktif membutuhkan penghalusan pengamatan, aktivitas
interpersonal, serta keterampilan dan kemampuan melakukan intervensi baik oleh
guru maupun oleh peserta didik.
Strategi pembelajaran interaktif jika diterapkan untuk
melatih peserta didik dalam berbicara substansi dapat dikelompokkan dalam tiga
jenis strategi, yaitu: strategi kuliah interaktif, strategi diskusi reflektif,
dan strategi diskusi kelompok kooperatif. Beberapa strategi lain yang
bervariasi juga dilakukan dalam pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung.[10]
Masing-masing strategi berbicara tersebut menggunakan
beberapa metode yang bervariasi. Contoh pemilihan metode pembelajaran untuk
strategi kuliah interaktif dideskripsikan sebagai berikut.
a. Strategi Kuliah Interaktif
Strategi
ini digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga peserta didik dapat
mengolah informasi tersebut. Tahapan yang dapat digunakan untuk membuat
strategi menjadi lebih efektif adalah sebagai berikut.
1) Kuliah dimulai dengan menyajikan hal yang menarik,
misalnya menggunakan inkuiri Suchman, media video, dan sebagainya.
2) Libatkan peserta didik secara aktif dalam belajar.
Guru
melibatkan peserta didik untuk aktif belajar setelah menyampaikan informasi,
misalnya dengan menggunakan metode bertanya dan menulis (question-all write), think pair share (TPS), whip
around, note taking, dan
sebagainya. Metode bertanya dan menulis
dapat dilakukan ketika guru sedang menyampaikan informasi, di mana peserta
didik diberi kesempatan bertanya, memikirkan pertanyaan tersebut, dan menulis
jawabannya. Metode TPS dimulai dengan membahas pertanyaan terbuka (divergen)
yang diajukan oleh guru sehingga banyak kemungkinan jawaban yang dibahas oleh
pasangan peserta didik. Guru berkeliling mendekati peserta didik (whip around) dan
menstimulasi diskusi dengan menanyakan jawaban mereka atau pertanyaan yang
telah diajukan.
3) Bantu peserta didik merangkum informasi yang telah
dipelajari.
Metode yang
dapat diterapkan dalam membuat rangkuman adalah meminta peserta didik menulis
sintesis kalimat atau meringkas materi yang telah dipelajari.[11]
b. Strategi Diskusi Reflektif
Strategi
ini digunakan untuk melatih berbicara yang membutuhkan pemikiran yang
mendalam, di mana peserta didik harus memahami, menganalisis, dan mensintesis
informasi yang didiskusikan. Diskusi kelas merupakan kesempatan bagi peserta
didik untuk merefleksikan hasil belajarnya dan kemampuan berpikir kritis.
Tahapan yang dilakukan dalam upaya melibatkan semua peserta didik untuk
berpikir dan mengemukakan pendapatnya adalah sebagai berikut.
1) Rancang dan menggunakan pertanyaan "Socrates" (dialog Socrates).
Metode
pertanyaan/dialog Socrates dapat digunakan untuk memancing peserta didik untuk
berpikir dan taktik yang sangat jitu untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
2) Berikan kesempatan berpikir dan menulis bagi peserta didik.
Metode yang
dapat digunakan, misalnya question all write, think pair share, dan
menulis hasil diskusi.
3) Gunakan teknik “memanggil” yang bervariasi agar peserta
didik terlibat dalam diskusi.[12]
c. Strategi Diskusi Kelompok Kooperatif
Strategi
ini dapat digunakan untuk melibatkan peserta didik berbicara dan berpikir
mendalam tentang apa yang dibicarakan. Diskusi kelompok dikembangkan oleh Burt
Bower dan Spencer Kagan, di mana satu kelompok terdiri dari tiga atau empat
peserta didik. Pertanyaan yang dibahas dalam diskusi kelompok sebaiknya
bersifat terbuka (open ended), selanjutnya perwakilan kelompok
memaparkan hasil diskusi pada semua peserta didik yang lain (presentasi kelas).
Tahapan yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi ini adalah
sebagai berikut.
1) Kumpulkan bahan untuk aktivitas kelompok.
2) Rancang pertanyaan untuk aktivitas kelompok.
3) Diskusi kelompok peserta didik.
Beberapa
metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk melibatkan peserta didik berdiskusi
dalam kelompok, misalnya: numbered heads together (NHT), pertanyaan
Socrates, dana mendorong kelompok untuk merespons ide masing-masmg.
4) Atur agar peserta didik memberikan respons individu
terhadap materi yang didiskusikan.
Salah satu strategi yang umum diterapkan dalam
beberapa model pembelajaran adalah diskusi kelas. Hasil belajar yang dapat
diperoleh dengan melaksanakan diskusi kelas adalah pemahaman konseptual,
keterampilan berkomunikasi dan proses berpikir, serta keterlibatan peserta
didik dalam belajar.[13]
Diskusi berbeda dengan resitasi karena dalam diskusi
terjadi percakapan dan berbagi ide/pendapat antara guru dengan peserta didik,
atau antara peserta didik, sedangkan pada resitasi terjadi pemeriksaan oleh
guru terhadap pemahaman peserta didik. Resitasi adalah pertukaran informasi
secara tanya-jawab dengan peran guru sebagai pemeriksa untuk mengetahui
informasi faktual atau pemahaman konsep yang dikuasai peserta didik.[14]
D.
Metode Diskusi dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan
siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan
suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan
siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. Oleh karena itu, diskusi bukanlah
debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar
pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk
menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya
timbul dari asumsi: 1) diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya
oleh karena interaksi antar siswa muncul secara spontan sehingga hasil dan arah
diskusi sulit ditentukan, 2) diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup
panjang, padahal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas sehingga
keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas.
Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru sebab dengan perencanaan
dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari.
Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada
perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu
ceramah dan demonstrasi. Pada metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran
sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya. Pada
metode diskusi bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya
serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa. Materi pembelajaran
ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri karena tujuan utama metode ini
bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses
belajar.
Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan
dalam proses pembelajaran. Pertama,
diskusi kelompok. Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada diskusi ini
permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan.
Pengatur jalannya diskusi adalah guru. Kedua,
diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses
pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa
submasalah. Setiap kelompok memecahkan submasalah yang disampaikan guru. Proses
diskusi diakhiri dengan laporan setiap kelompok.[15]
a. Jenis-jenis diskusi
Terdapat
bemacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran,
antara lain:
1) Diskusi Kelas
Diskusi
kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang
dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Prosedur yang
digunakan dalam jenis diskusi ini adalah: 1) guru membagi tugas sebagai
pelaksanaan diskusi, misalnya siapa yang akan menjadi moderator, siapa yang
menjadi penulis, 2) sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar)
memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit, 3) siswa diberi
kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator, 4)
sumber masalah memberi tanggapan, dan 5) moderator menyimpulkan hasil diskusi.
2) Diskusi kelompok kecil
Diskusi
kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah
anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru
menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke
dalam submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai
diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.
3) Simposium
Simposium
adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai
sudut pandang berdasarkan keahlian. Simposium dilakukan untuk memberikan
wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya
tentang masalah yang dibahas, maka simposium diakhiri dengan pembacaan
kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.
4) Diskusi panel
Diskusi
panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang
panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Diskusi panel
berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiens tidak
terlibat secara langsung, tetapi berperan hanya sekedar peninjau para panelis
yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif
perlu digabungkan dengan metode lain, misalnya dengan metode penugasan. Siswa
disuruh untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.
5) Seminar
Seminar
merupakan bentuk pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah orang untuk melakukan
kajian dan pembahasan suatu masalah (topik/tema) melalui gagas pikir dan tukar
pendapat yang dipandu oleh seorang ahli. Sebagaimana dijelaskan dalam KBB,
bahwa seminar merupakan pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah
di bawah pimpinan ahli (guru besar, pakar, dan sebagainya). Seminar biasanya
diawali oleh 'pembicara kunci' (keynote speaker) yang dimaksudkan untuk
memberikan arah (benang merah) materi dan jalannya diskusi. Setiap pembicara
membahas suatu topik/tema dan mengacu pada suatu tema seminar atau masalah
utama yang dibahas.
6) Lokakarya
Kegiatan
lokakarya adalah bentuk pertemuan yang membahas masalah
praktis/teknis/operasional yang biasanya merupakan tindak lanjut dari hasil
seminar sehingga hal-hal yang bersifat konseptual dapat diturunkan ke dalam
suatu produk yang siap untuk dikembangkan atau dilaksanakan, dan itulah nuansa
berbeda antara seminar dan lokakarya. Misalnya lokakarya penyusunan tentang teknis
penyusunan program sekolah, teknik penyusunan silabus. Dengan hasil tersebut
para peserta akan dengan mudah menerapkan dan melaksanakan hasil lokakarya
tersebut.[16]
b. Langkah-langkah melaksanakan diskusi
Agar
penggunan diskusi berhasil dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Langkah persiapan
Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam persiapan diskusi di antaranya:
a) Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang
bersifat umum maupun tujuan khusus.
b) Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c) Menetapkan masalah yang akan dibahas.
d) Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan
teknis pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas dengan segala fasilitasnya,
petugas-petugas diskusi seperti moderator, notulis, dan tim perumus, manakala
diperlukan.
2) Pelaksanaan diskusi
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi adalah:
a) Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat mempengaruhi
kelancaran diskusi.
b) Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi,
misalnya menyajikan tujuan yang ingin dicapai serta aturan-aturan diskusi
sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.
c) Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang
telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan diskusi hendaklah memerhatikan suasana atau
iklim belajar yang menyenangkan, misalnya tidak tegang, tidak saling
menyudutkan, dan lain sebagainya.
d) Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta
diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
e) Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang
sedang dibahas.
f) Hal ini sangat penting, sebab tanpa pengendalian
biasanya arah pembahasan menjadi melebar dan tidak fokus.
3) Menutup diskusi
Akhir dari
proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi hendaklah dilakuan hal-hal
sebagai berikut:
a) Membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan
sesuai dengan hasil diskusi.
b) Me-review jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh
peserta sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.[17]
c. Kelebihan dan kelemahan metode diskusi
Ada
beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar
mengajar.
· Metode
diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
· Dapat
melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap
permasalahan.
·
Dapat
melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Di
samping itu, diskusi juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang
lain.
Selain beberapa kelebihan, diskusi juga memiliki
beberapa kelemahan, di antaranya:
· Sering
terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang
memiliki keterampilan berbicara.
·
Kadang-kadang
pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
·
Memerlukan
waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang
direncanakan.
· Dalam
diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak
terkontrol. Akibatnya, kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung,
sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran.[18]
E.
Penerapan Model, Strategi dan Metode dalam Pembelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI)
Suatu model, strategi dan metode dalam pembelajaran merupakan pola
umum dan prosedur umum dalam pelaksanaan aktivitas pembelajaran. Guru dapat
memilih sebuah model, strategi dan metode tertentu dalam membuat suatu
rancangan atau desain pembelajaran tertentu. Sebuah desain pembelajaran perlu
memperhatikan karakteristik peserta didik, kondisi lingkungan belajar, dan
sumber daya yang tersedia untuk pelaksanaan proses belajar mengajar.[19]
Sebelumnya, tentu guru perlu mempertimbangkan output dan dampak
pembelajaran dalam memilih sebuah model, strategi dan metode pembelajaran
seperti, apa hal penting yang perlu disampaikan pada peserta didik, model,
strategi dan metode apa yang cocok untuk pembelajaran peserta didik, serta apa
dampak pembelajaran dan bagaimana implikasi selanjutnya terhadap peserta didik.[20]
Model Contextual Teaching and Learning (CTL), strategi
interaktif dan metode diskusi ini tentunya saling berkaitan satu sama lainnya
yang bertujuan ingin menciptakan suatu proses pembelajaran yang kondusif,
efektif, efisien, menyenangkan dan membuat para peserta didik aktif dalam
proses pembelajaran SKI.
Dalam penerapannya, model, strategi dan metode yang dipaparkan
dalam makalah ini bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik melalui
diskusi pembelajaran yang aktif tentang pembelajaran yang berhubungan dengan
riwayat hidup Rasulullah SAW, sahabat-sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk
yang diceritakan kepada peserta didik sebagai contoh teladan yang utama agar
mereka dapat mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang
kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan dengan menggunakan model
Contextual Teaching and Learning (CTL), strategi interaktif dan metode
diskusi dalam proses pembelajarannya.
Selain itu pendidikan karakter di lingkungan sekolah bertujuan
untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang
mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik
secara utuh, terpadu dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan
peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,
mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.[21]
Diharapkan
dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL),
strategi interaktif dan metode diskusi ini dapat menciptakan lingkungan belajar
yang aktif, efektif, efisien dan menyenangkan serta dapat mendasari aktivitas
guru dan peserta didik.

0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.