Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Resume Jurnal Computech & Bisnis

RESUME JURNAL 3


Judul jurnal             :
Analisis Kesulitan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika
Penulis                        : Ruhyana
Lembaga penulis       : Jurnal Computech & Bisnis
Tahun                         : 2016
Volume/No./Hlm        : Vol. 10, No. 2, h. 106-118
Resume Jurnal          :
Jurnal yang ditulis oleh Ruhyana yang berjudul “Analisis Kesulitan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika” ini merupakan analisis terhadap hasil test soal pemecahan masalah matematika siswa kelas 6 sekolah dasar di SDN Sabagi Kecamatan Sumedang, Kabupaten Sumedang. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kesulitan, faktor penyebab kesulitan, dan bagaimana penanganan terhadap kesulitan siswa dalam pemecahan masalah matematika. Dari hasil analisis tersebut, diharapkan guru mampu mengantisipasi faktor apa saja yang dapat menjadikan hambatan bagi siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah matematika.
Seperti yang kita ketahui bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung, tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving), baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya.
Tidak dipungkiri bahwa matematika menjadi salah satu mata pelajaran dengan tingkat kesulitan belajar paling banyak yang dialami siswa. Oleh karena itu diperlukan penelurusan lebih dalam terhadap apa saja hambatan belajar yang dialami siswa sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal matematika terutama soal pemcehan masalah, serta bagaimana cara meminimalisir berbagai hambatan belajar tersebut. Dalam jurnal ini, penulis mencoba mengidentifikasi beberapa kesulitan yang dialami siswa dalam materi bilangan dan pecahan.
Untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah matematika, sebelumnya penulis melakukan tes diagnosis terlebih dahulu kepada 30 siswa di salah satu SD di kota Bandung. Dari hasil test tersebut selanjutnya dilakukan analisis secara mendalam terhadap kesulitan-kesulitan apa saja yang ditemui siswa dalam mengerjakan soal tersebut.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan penulis dalam jurnal ini dilakukan setelah penulis melakukan sebuah tes yang berkaitan dengan soal pemecahan masalah dengan topik bilangan dan pecahan di kelas 6 kepada 30 siswa di sebuah sekolah yang kemudian selanjutnya dilakukan analisis secara mendalam terhadap masalah apa saja yang ditemukan setelah mengetahui hasil tes tersebut. Selain itu, penelitian yang dilakukan penulis dalam jurnal ini juga bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kesulitan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah dengan topik bilangan dan pecahan di kelas 6, faktor apa saja yang menyebakan siswa mengalami kesulitan, serta bagaimana penanganan yang tepat terhadap kesulitan yang dialami siswa tersebut.
Dalam penelitian ini penulis tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai jenis penelitian atau pendekatan seperti apa yang dilakukan penulis. Akan tetapi, berdasarkan dari hasil telaah yang saya lakukan pada jurnal ini saya menyimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan penulis merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, karena analisis yang dilakukan penulis tidak berupa analisis yang bersifat kuantitatif atau statistik yang menggunakan angka-angka atau rumus tertentu dalam menentukan hasilnya, tertapi hanya berupa penjabaran deskriptif mengenai apa saja jenis kesulitan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah dengan topik bilangan dan pecahan di kelas 6.
Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan penulis, dijelaskan bahwa suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya, akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar, maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah.
Dalam pembelajaran matematika, masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita, penggambaran fenomena atau kejadian, ilustrasi gambar atau teka-teki. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. Terdapat beberapa jenis masalah matematika, walaupun sebenarnya tumpang tindih, tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika. Menurut Hudoyo & Sutawijaya, masalah matematika dapat berupa masalah transalasi, masalah aplikasi, masalah proses dan masalah teka-teki.
Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal matematika dapat diduga dari kesalahan-kesalahan dalam mengerjakannya. Menurut Davis dan McKillip dalam Suryanto, kesalahan dalam memecahkan masalah atau soal matematika ada yang disebabkan oleh kecerobohan, ada yang disebabkan oleh masalah belajar. Sedangkan menurut Wood bahwa beberapa karakteristik kesulitan siswa dalam belajar matematika adalah kesulitan membedakan angka, simbol-simbol, serta bangun ruang, tidak sanggup mengingat dalil-dalil matematika, menulis angka tidak terbaca atau dalam ukuran kecil, tidak memahami simbol-simbol matematika, lemahnya kemampuan berpikir abstrak, lemahnya kemampuan metakognisi (lemahnya kemampuan mengidentifikasi serta memanfaatkan algoritma dalam memecahkan soal-soal matematika).
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran matematika seringkali ditemukan berbagai masalah yang menyebabkann siswa mengalami hambatan dalam proses pemahaman konsepnya sehingga mengakibatkan siswa juga sulit dalam proses pemecahan masalahnya. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. Kesulitan atau hambatan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal matematika dapat diduga dari kesalahan-kesalahan dalam mengerjakan soal yang berkaitan dengan materi yang tidak mereka pahami betul konsepnya seperti apa dan bagaimana cara pemecahan masalahnya.
Hasil penelitian yang dilakukan penulis dalam jurnal ini menghasilkan bahwa kesulitan yang diduga menjadi penyebab atau sumber terjadinya kesalahan yang yang dialami siswa yaitu berupa kesulitan dalam memahami atau menggunakan simbol, menggunakan proses yang tepat, menguasai konsep dan prasyarat yang ada pada proses pemecahan masalah tersebut, kurangnya ketelitian, perhitungan atau komputasi, mengingat, memahami maksud soal, memahami fakta, serta mengaitkan konsep dengan fakta yang ada dalam soal pemecahan masalah tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dalam jurnal ini, penulis menggambarkan bahwa pembelajaran yang dapat mengembangkan penalaran proporsional bukanlah pembelajaran klasikal yang hanya menjadikan murid sebagai objek pasif, melainkan pembelajaran penuh aktivitas yang melibatkan seluruh siswa untuk ikut berperan. Guru juga harus memberikan contoh-contoh nyata yang ada di kehidupan siswa dan memberikan siswa kebebasan untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah proporsional. Selain itu, yang paling penting adalah menghindari pembelajaran prosedural dimana guru menyajikan algoritma penyelesaian masalah di awal dan menjelaskan secara verbal contoh bagaimana cara mengerjakannya tanpa disertai media apapun. Kegiatan ini jelas akan membunuh semangat siswa dalam bereksporasi mencari pengetahuannya sendiri. Membiasakan siswa memecahkan masalah dengan jalan pintas tanpa disertai proses berpikir hanya akan menyebabkan kemampuan logika proporsional menjadi tidak berkembang.
Dalam penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa pada bahasan bilangan disebabkan oleh kemampuan verbal siswa untuk mencerna kalimat soal cerita menjadi kalimat matematika masih rendah. Namun ada juga yang dimungkinkan karena prasyarat yang dimiliki kurang terutama dalam perkalian sehingga menjadikan pemahaman konsep materi pada perkalian dua bilangan menjadi tidak paham. Untuk dapat memahami konsep perkalian dua bilangan atau lebih maka siswa harus memiliki kemampuan konsep prasyarat seperti kemampuan memahami konsep penjumlahan, konsep perkalian, serta konsep perkalian dua bilangan dengan cara bersusun. Sedangkan dalam bahasan pecahan, terlhat sekali bahwa penguasaan konsep siswa terhadap pecahan masih sangat rendah. Terlihat dari masih terjadi kesalahan dalam menentukan bagian dari sebuah pecahan atau bagaimana menghitung persentase dari suatu harga.
Kesulitan yang menjadi penyebab atau sumber terjadinya kesalahan siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika adalah kesulitan dalam memahami dan menggunakan lambang, menggunakan proses yang tepat, menggunakan bahasa, menguasai fakta dan konsep prasyarat, menerapkan aturan yang relevan, mengerjakan soal tidak teliti, memahami konsep, perhitungan atau komputasi, mengingat, memahami maksud soal, mengambil keputusan, memahami gambar, dan mengaitkan konsep dengan fakta.
Berdasarkan hal tersebut penulis berpendapat bahwa perlu dilakukannya langkah-langkah konkret untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal matematika. Tindakan yang dipilih tentu yang sesuai dengan kemampuan siswa, kemampuan guru dan kondisi sekolah di mana terjadi proses belajar-mengajar berlangsung. Karena, bisa saja masalah yang terjadi sama, tetapi situasi dan kondisinya berbeda maka dibutuhkan penanganan yang berbeda pula. Kegiatan yang dimaksud dapat berupa kegiatan yang menumbuhkan minat dan motivasi serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika, terutama pada bagian-bagian dimana siswa mengalami kesulitan. Kemungkinan langkah-langkah untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah perlu diadakannya program pengajaran khusus sebagai pengayaan, perlu ditinjau kembali dan dikembangkan sistem penilaian yang bersifat edukatif yang dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar matematika, perlu dipenuhinya komponen-komponen belajar mengajar pokok yang disyaratkan. Selain itu juga diperlukan perubahan pembelajaran yang menggunakan inovasi baru untuk lebih memotivasi semangat dan minat siswa.
Berdasarkan pemaparan penulis di atas saya menyimpulkan bahwa kesulitan belajar yang dialami oleh siswa kelas 6 di SDN Sabagi Sumedang dalam pemecahan masalah matematika pada bahasan bilangan disebabkan oleh kemampuan verbal siswa untuk mencerna kalimat soal cerita menjadi kalimat matematika masih rendah. Selain itu, prasyarat yang dimiliki siswa juga kurang, seperti dalam hal memahami dan menggunakan lambang, menggunakan proses yang tepat, menggunakan bahasa, menguasai fakta dan konsep prasyarat, menerapkan aturan yang relevan, kurangnya ketelitian dalam mengerjakan soal, memahami konsep, perhitungan atau komputasi, mengingat, memahami maksud soal, mengambil keputusan, memahami gambar, dan mengaitkan konsep dengan fakta. Kerena hal itulah perlu dilakukan langkah-langkah konkret untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal matematika tersebut. Tentunya tindakan yang dilakukan harus sesuai dengan kemampuan siswa, kemampuan guru dan kondisi sekolah di mana terjadi proses belajar-mengajar tersebut berlangsung.

Resume Jurnal Kadikma


RESUME JURNAL 2



Judul jurnal             :
Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Materi Aljabar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil
Penulis                     :
Bunga Ayu Desy Permatasari, Toto Bara Setiawan dan Arika Indah Kristiana
Lembaga penulis       : Jurnal Kadikma
Tahun                         : 2015
Volume/No./Hlm        : Vol. 6, No. 2, h. 119-130
Resume Jurnal          :
Jurnal yang ditulis oleh Bunga Ayu Desy Permatasari, Toto Bara Setiawan dan Arika Indah Kristiana yang berjudul “Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Materi Aljabar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil” ini merupakan penelitian yang akan mendeskripsikan mengenai kesulitan siswa dalam memahami maupun menyelesaikan soal yang berkaitan dengan materi aljabar.
Seperti yang kita ketahui matematika merupakan salah pelajaran yang sangat penting untuk kita pelajari seperti yang diungkapkan oleh Cockroft yang mengemukakan alasan perlunya belajar matematika, yaitu: matematika perlu diajarkan kepada siswa karena selalu digunakan dalam segala segi kehidupan, semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai, selain itu matematika juga merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan padat, serta dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara, matematika juga  dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan, dan memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.
Akan tetapi pada kenyataannya sering ditemui siswa yang mengalami kesulitan selama proses pembelajaran matematika tersebut. Sesuai dengan pernyataan Soedjadi yang mengatakan bahwa kesulitan yang dialami siswa akan memungkinkan terjadi kesalahan sewaktu menjawab soal tes. Sebagai salah satu contoh ialah kesalahan yang dilakukan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil dalam mempelajari matematika pada materi aljabar, kesalahan yang dilakukan siswa dalam menjawab soal materi aljabar tersebut merupakan bukti adanya kesulitan yang dialami oleh siswa pada materi tersebut. Hal ini berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 2 Bangil.
Oleh karena itu peneliti dalam jurnal ini mencoba untuk meneliti mengenai permasalahan tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesulitan siswa kelas VIII dalam menyelesaikan soal materi aljabar di SMP Negeri 2 Bangil berdasarkan kemampuan pemahaman konsep serta faktor apa saja yang dapat mempengaruhi siswa dalam mempelajari materi aljabar. Adapun untuk mengetahui kesulitan siswa berdasarkan kemampuan pemahaman konsep terdapat tujuh indikator yang digunakan yaitu (1) menyatakan ulang sebuah konsep, (2) mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya, (3) mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh konsep, (4) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika, (5) mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep, (6) menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu, (7) mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah. Sedangkan faktor penyebab kesulitan siswa dalam mempelajari aljabar ditinjau dari faktor ekstern dan faktor intern.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang didahului dengan pengembangan instrumen tes pemahaman konsep dan angket. Subjek penelitian diambil berdasarkan teknik cluster random sampling. Awalnya nilai ulangan dari siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil pada pokok bahasan phytagoras dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, untuk mengetahui bahwa populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil mempunyai kemampuan yang homogen atau tidak. Setelah dipastikan bahwa populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil memiliki kemampuan homogen, maka ditentukan subjek penelitian dengan mengambil secara acak dua kelas dari enam kelas yang ada. Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas tersebut dapat digunakan untuk mengetahui bahwa tidak adanya perbedaan kemampuan dari populasi. Sehingga nantinya dapat digunakan dalam pengambilan kesimpulan bahwa seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal materi aljabar. Kemudian seluruh siswa pada dua kelas yang telah ditetapkan sebagai subjek penelitian diminta untuk meyelesaikan soal tes pemahaman konsep dan angket. Setelah itu hasil tes tersebut digunakan untuk menghitung persentase tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal materi aljabar berdasarkan kemampuan pemahaman konsep. Sedangkan hasil angket digunakan untuk menghitung persentase faktor penyebab siswa kesulitan dalam mempelajari aljabar.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa peneliti dalam jurnal ini melakukan penelitian dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mengambil populasi seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil yang kemudian dipilih sampelnya menggunakan teknik cluster random sampling. Hasilnya sampel atau subjek yang dipilih oleh peneliti dalam penelitian ini diambil secara acak dua kelas dari enam kelas yang ada yaitu kelas VIII C dan VIII D.
Hasil analisis data yang dilakukan peneliti menunjukkan persentase kesulitan pada indikator kemampuan pemahaman konsep yaitu menyatakan ulang sebuah konsep, persentase kesulitan sebesar 61,59%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan yang tinggi. Penyebab dari kesulitan siswa dalam menyatakan ulang konsep adalah siswa tidak paham benar akan konsep fungsi dan persamaan linier dua variabel. Berdasarkan hasil angket siswa menjawab bahwa guru belum cukup jelas dalam menjelaskan pengertian dari fungsi dan pengertian dari persamaan linier dua variabel sehingga beberapa siswa masih mengalami kesulitan. Selain itu kurangnya pengetahuan siswa akan soal-soal yang mengharuskan siswa untuk menyatakan ulang suatu konsep menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menyatakan ulang sebuah konsep.
Pada indikator mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya, persentase kesulitan sebesar 19,11%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan sangat rendah. Berdasarkan kategori kesulitan pada indikator tersebut sangat rendah, maka dapat diartikan bahwa rata-rata siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya. Penyebab dari siswa yang mengalami kesulitan dalam mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya yaitu siswa tidak memahami pengertian dari objek tersebut. Selain itu siswa juga mengalami kebingungan dalam mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya.
Persentase kesulitan pada indikator mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh konsep sebesar 10,37%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan sangat rendah. Penyebab dari kesulitan siswa yaitu siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal. Sehingga melakukan kesalahan dalam memilih diagram panah yang terdapat pada soal.
Persentase kesulitan pada indikator menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika sebesar 50,61%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan sedang. Penyebab dari kesulitan tersebut yaitu penggunaan diagram yang tidak tepat dalam menyajikan diagram panah dan simbol yang tidak tepat dalam menyajikan himpunan berurutan. Kurangnya pengetahuan siswa akan penggunaan diagram dan simbol merupakan penyebab utama siswa mengalami kesulitan pada indikator tersebut.
Pada indikator mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep persentase kesulitan sebesar 34,76%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan rendah. Penyebab dari kesulitan tersebut yaitu siswa lupa syarat yang menentukan suatu konsep.
Pada indikator menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu persentase kesulitan sebesar 54,47%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan sedang. Penyebab dari kesulitan tersebut yaitu siswa kurang memahami operasi dari aljabar dan kurang ketelitian dari siswa yang menyebabkan banyak melakukan kesalahan dalam operasi aljabar.
Pada indikator mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah persentase kesulitan sebesar 64,63%. Hal ini menunjukkan kategori kesulitan tinggi. Penyebab dari kesulitan tersebut yaitu siswa tidak dapat mengaplikasikan konsep sistem persamaan linear dua variabel pada soal. Sehingga siswa tidak dapat membuat model matematika dari soal. Ada beberapa siswa juga bingung menentukan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan model matematika yang telah siswa buat, serta kurangnya ketelitian dari siswa yang menyebabkan banyak melakukan kesalahan dalam menyelesaikan model matematika tersebut.
Berdasarkan analisis kesulitan siswa yang dilakukan peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyelesaikan soal materi aljabar yang didasarkan oleh kemampuan pemahaman kosep serta penyebab kesulitan siswa dalam mempelajari materi aljabar, terlihat bahwa siswa masih belum bisa memahami konsep-konsep pada materi aljabar dengan baik dan benar. Sehingga siswa merasa bingung untuk menyelesaikan soal materi aljabar. Hal tersebut disebabkan karena siswa terbiasa untuk menyelesaikan soal tanpa memahami konsep yang terkandung dalam soal dengan baik. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa penggunanaan metode mengajar, alat peraga dan media dalam pembelajaran oleh guru cukup mempengaruhi kesulitan siswa dalam mempelajari aljabar.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, peneliti dalam jurnal ini menyimpulkan bahwa kesulitan siswa yang tinggi kategori kesulitannya terdapat pada indikator menyatakan ulang sebuah kosep yaitu sebesar 61,59%. Hal ini berarti pemahaman siswa dalam menyatakan ulang sebuah konsep masih kurang. Selain itu indikator kemampuan pemahaman konsep lainnya yang kategori kesulitannya tinggi yaitu pada indikator mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecah masalah yaitu sebesar 64,63%. Hal ini berarti siswa belum dapat mengaplikasikan konsep yang siswa dapat dan menggunakan algoritma untuk memecahkan masalah yang terdapat pada soal. Penyebab kesulitan siswa dalam mempelajari aljabar terdapat dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Hasil pengisian angket menunjukkan bahwa kontribusi antara faktor intern dan faktor ekstern menunjukkan persentase masing-masing faktor yaitu sebesar 23,66% untuk faktor intern dan sebesar 48,0% untuk faktor ekstern. Hal ini menunjukkan bahwa faktor yang lebih banyak mempengaruhi kesulitan siswa dalam mempelajari aljabar berasal dari faktor ekstern. Diantaranya yaitu berasal dari aspek metode guru karena sebanyak 60 siswa menjawab bahwa guru tidak menggunakan media apapun pada saat mengajarkan materi aljabar. Penggunaan metode ceramah dianggap tidak dapat menarik minat siswa untuk mempelajari aljabar. Selain itu metode ceramah dan tidak adanya metode lain yang bervariasi mengakibatkan pemahaman siswa terhadap materi aljabar kurang baik.
Dari pemaparan yang dijelaskan peneliti dalam kesimpulan tersebut saya mencoba menarik kesimpulan dari penelitian ini. Kesimpulan yang dapat saya ambil ialah bahwa siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bangil masih mengalami kesulitan dalam mempelajari materi aljabar terutama dalam pemahaman konsep materi tersebut, yang mengakibatkan siswa juga sulit mengaplikasikan materi tersebut untuk memecahkan soal materi aljabar yang diberikan oleh guru. Selain itu, faktor yang mempengaruhi kesulitan siswa tersebut juga dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Akan tetapi, faktor yang lebih banyak mempengaruhi kesulitan siswa dalam mempelajari materi aljabar berasal dari faktor ekstern, yaitu berasal dari aspek metode guru yang selalu menggunakan metode ceramah dan tidak adanya metode lain yang bervariasi sehingga mengakibatkan pemahaman siswa terhadap materi aljabar kurang baik. 

Resume Jurnal Pendidikan Matematika

RESUME JURNAL 1

Judul jurnal             :
Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-Soal Penerapan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Penulis                        : Fadli Hi. Idris, Ikram Hamid dan Ardiana
Lembaga penulis       : Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Khairun
Tahun                         : 2015
Volume/No./Hlm        : Vol. 4. No. 1, h. 92-98
Resume Jurnal          :
Jurnal yang ditulis oleh  Fadli Hi. Idris, Ikram Hamid dan Ardiana yang berjudul “Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-Soal Penerapan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel” ini dilatarbelakangi oleh kenyataan lapangan yang mereka temukan. Sebagaimana yang diketahui bahwa matematika merupakan suatu pelajaran yang mengajarkan sistem berpikir yang sistematis, analisis dan logis, sehingga matematika dapat manjadi dasar ilmu-ilmu lain khususnya ilmu eksata, mengingat pentingnya peran matematika maka pengajar matematika pada jenjang pendidikan formal perlu mendapat perhatian khusus dari siswa.
Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu belajar siswa adalah kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam menyelesaikan berbagai persoalan dalam konsep matematika terutama pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) khususnya dalam membuat model matematika terkait persoalan sehari-hari. Sering dijumpai aktivitas belajar setiap siswa dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbadaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. M. Syah dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru” mengatakan bahwa kesulitan belajar juga dialami siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.
Namun setelah Fadli dan kawan-kawan melakukan observasi, ternyata pemahaman siswa tentang SPLDV masih rendah dan sering berdampak langsung dalam membuat model matematika, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Hal tersebut sesuai dengan informasi dari guru bidang studi matematika di SMP Islam Jailolo, bahwa siswa sering mengalami kesulitan dalam membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan linear dua variabel.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa para peneliti yang menulis jurnal ini tertarik untuk menulis jurnal yanng berhubungan dengan masalah tersebut dan sepakat untuk mengangkat judul “Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-Soal Penerapan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel” sebagai judul penelitian yang akan mereka teliti lebih lanjut dan dibahas tuntas dalam jurnal mereka.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menyelasaikan soal-soal penerapan sistem persamaan linear dua variabel. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh kelas VIII SMP Islam Jailolo yang berjumlah 57 siswa yang tersebar dalam dua kelas (VIII A dan VIII B) dan sampel yang dipilih peneliti adalah siswa kelas VIII A yang berjumlah 25 siswa. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik sampling yaitu puposive sampling. Sampel dipilih oleh peneliti berdasarkan hasil tes yang dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian yang ternyata hasil tes tersebut menunjukkan bahwa hasil tes siswa dari kelas VIII A lebih rendah dari hasil tes siswa dari kelas VIII B.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada siswa kelas VIII A SMP Islam Jailolo hasilnya menujukkan bahwa kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal-soal penerapan sistem persamaan linear dua variabel adalah sebagai berikut:
a.  kesulitan fakta, yaitu kesulitan dalam menempatkan lambang-lambang yang membentuk persamaan linear dua variabel,
b.     kesulitan konsep, yaitu kesulitan dalam merumuskan model matematika yang berkaitan dengan sitem persamaan linear dua variabel,
c.    Kesulitan prinsip, yaitu dalam menggunakan sifat penambahan dan perkalian pada persamaan serta kesulitan dalam menggunakan metode dalam menentukan solusi dari sistem persamaan linear dua variabel,
d.        Kesulitan skill, yaitu dalam melakukan operasi pada bilangan.
Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan para peneliti dalam jurnal ini, maka dapat disimpulan bahwa sebagian besar siswa kelas VIII A SMP Islam Jailolo masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal penerapan sistem persamaan linear dua variabel. Kesulitan yang dialami siswa tersebut ditandai dengan adanya kesalahan-kesalahan siswa dalam menjawab soal yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel.
Kesalahan yang dimaksud berdasarkan hasil dari penelitian tersebut diantaranya adalah kesalahan dalam menempatkan lambang-lambang yang membentuk SPLDV, kesalahan dalam merumuskan model matematika yang berkaitan dengan SPLDV, kesalahan dalam menggunakan sifat-sifat penambahan dan perkalian pada persamaan, serta kesalahan dalam melakukan operasi pada bilangan. 

Budaya dan Tradisi Lisan Orang Banjar

BUDAYA DAN TRADISI LISAN ORANG BANJAR

Suku bangsa Banjar ialah penduduk asli yang mendiami sebagian besar wilayah provinsi Kalimantan Selatan. Mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam. Pengakuan bahwa religi sebagai suatu sistem, telah dikondisikan pada makna religi yang terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain dimana masing-masing bagiannya merupakan satu sistem yang tersendiri.
Adapun tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya MelayuArab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.
Orang banjar memiliki budaya dan tradisi lisan tersendiri yang sudah dimiliki sejak dahulu, seperti madihin, pasar terapung, baayan maulid, palui, kerajinan, adat perkawinan, kepercayaan kehamilan, dan lain sebagainya. Beberapa indikasi menunjukkan, sejumlah aspek kebudayaan Banjar sedang mengalami krisis. Budaya banjar saat ini sedang di tengah pengaruh globalisasi. Mengingat sifatnya yang dinamis, kebudayaan tak dapat ”dilestarikan” dalam pengertian seperti apa adanya pada suatu masa. Pakaian yang kita kenakan sekarang berbeda dengan pakaian yang dikenakan urang bahari misalnya. Contoh lain lagi misalkan dalam penggunaan bahasa banjar sehari-hari, bahasa Banjar terancam punah, karena tidak ada upaya sistematis dan terencana yang dilakukan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pewarisan dan pembinaannya. Dalam era teknologi telekomunikasi dan informasi kini, berapa persen anak banua yang masih menguasai/menggunakan “bahasa Banjar yang baik dan benar” dalam berkomunikasi? Lihatlah “bahasa gaul” remaja Banjar di sekolah, kampus dan di radio-radio swasta (terutama di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru), yang tidak berbeda dengan bahasa yang digunakan remaja di kota-kota besar di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera.
            Jika kita ingat kembali kapan terakhir kali kita menyaksikan langsung (di lingkungan tempat tinggal kita) baturai pantunmadihinbasyairbadundam (bukan dari televisi)? Dalam setahun, berapa kali kita menyaksikan sastra tradisi Banjar, dibandingkan dengan menonton film di bioskop/televisi/VCD/DVD, acara karaoke, pertunjukan musik dangdut atau pop? Kalau urang Banjar benar-benar bangga dengan kebudayaan daerahnya, apakah semua sekolah di kabupaten/kota mengisi kurikulum muatan lokal (mulok) dengan bahasa, sastra dan kesenian daerah? Di Kota Banjarmasin, ada SMA favorit yang mengisi mata pelajaran mulok dengan Bahasa Inggris. Padahal, Bahasa Inggris sudah menjadi mata pelajaran tetap di sekolah dan kita sudah akrab dengan kosa katanya (misalnya, handphone, internet, chatting). Sementara itu, siapa yang tahu arti tangkujuh? Kalau masyarakat kita benar-benar bangga dengan kebudayaan daerahnya, sastra dan budaya Banjar-lah yang seyogianya dijadikan pilihan. Misalkan lagi seperti permainan-permainan yang sering dimainkan oleh anak-anak Banjar bahari, apakah anak-anak sekarang masih tetap memainkan permainan-permainan itu sekarang? Anak-anak sekarang hanya banyak bermain dengan gadget mereka dan menonton TV di rumah, sudah jarang ditemukan sekarang anak-anak yang masih melakukan permainan-pemainan anak-anak suku Banjar dahulu.
            Masyarakat Banjar adalah etnis mayoritas di Kalimantan. Bukan hanya di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, tapi urang Banjar juga ada di Malaysia, Riau dan Kepulauan Riau, selain di bagian lain Nusantara. Seni tradisinya pun beragam: sastra, teater, tari, musik dan seni rupa.
Dalam bidang sastra ada pantun, basyair, madihin, baandi-andi, termasuk bamamang (mantra)
Dalam bidang tater misalkan ada mamandawayang kulitwayang gungjapin caritalamut (monolog/teatertutur), tantayunganbabagungandamarulanbakisahbapandung dan lain-lain.
Dalam bidang tari ada baksa kambangbaksa panahradap rahayurudatmanuping (tari topeng), japinlalansisittandik (tandik balian) dan lain-lain.
Dalam bidang tari ada ahuikurung-kurungkuridingkintungbumbung, lagu daerah Banjar dan lain-lain.
Dalam bidang seni rupa seperti ukir-ukirankaligrafisasirangan.
Dampak yang paling mengkhawatirkan dari arus globalisasi adalah terhadap agama dan tatanan nilai lainnya dalam masyarakat Banjar. Kehidupan agama pada zaman ini mau tidak mau memang akan terus ditantang. Dunia di luar dia adalah dunia persaingan. Karena itu, orang mencari perlindungan pada agama dan kedamaian pada agama.
Dalam era global, di mana melalui teknologi telekomunikasi dan informasi unsur-unsur budaya asing dengan leluasa memasuki ruang publik (hingga ke kamar tidur kita), di masa mendatang, kalau tak ada upaya konkrit yang dilakukan, mungkin kebudayaan Banjar akan tinggal kenangan.

Prinsip Pengembangan Kurikulum

PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

A.      Pengertian Prinsip Pengembangan Kurikulum
Secara tata bahasa, prinsip mempunyai arti asas, dasar, keyakinan dan pendirian. Dari pengertian tersebut, dapat kita pahami bahwa kata prinsip menunjuk pada hal yang sangat penting, mendasar, harus diperhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi yang sama. Pengertian dan makna prinsip tersebut menunjukkan bahwa prinsip itu memiliki fungsi yang sangat penting dalam kaitannya dengan keberadaan sesuatu. Melalui pemahaman suatu prinsip, orang bisa menjadikan sesuatu lebih efektif dan efisien. Prinsip juga mencerminkan hakikat yang dikandung oleh sesuatu, baik dalam dimensi proses atau dimensi hasil, dan bersifat memberikan rambu-rambu yang harus diikuti untuk mencapai tujuan secara benar.
Pengembangan kurikulum atau mendesain kurikulum sering dimaknai secara sederhana sebagai kegiatan menghasilkan kurikulum baru atau kegiatan menghubungkan antara satu komponen dengan komponen kurikulum lainnya hingga menemukan kesesuaian. Komponen-komponen tersebut berada di tiga bahkan empat wilayah, yaitu perencanaan, penerapan, evaluasi dan dampak. Kegiatan pengembangan kurikulum juga melibatkan pihak tertentu seperti unsur pendidik, tenaga kependidikan, penentu kebijakan, komite sekolah, orang tua, pakar tetapi pihak masyarakat secara luas.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa prinsip pengembangan kurikulum menunjuk pada pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum, terutama dalam fase perencanaan kurikulum, yang pada dasarnya prinsip-prinsip tersebut merupakan ciri dari hakikat kurikulum itu sendiri. Pelaksanaan pengembangan kurikulum inipun didasakan dalam rangka ingin menghasilkan kurikulum baru atau kegiatan menghubungkan antara satu komponen dengan komponen kurikulum lainnya hingga menemukan kesesuaian berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berlaku.

B.       Macam-Macam Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum Sekolah berdasarkan Permen nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi didasari oleh prinsip-prinsip berikut ini:
1.  Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2.        Beragam dan terpadu.
3.        Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4.        Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
5.        Menyeluruh dan berkesinambungan.
6.        Belajar sepanjang hayat.
7.        Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Berdasarkan hal tersebut di atas Sukmadinata mengelompokkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum secara umum dan khusus. Secara umum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis (efisiensi) dan efektivitas. Adapun secara khusus berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian.
1.        Prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum. Sukmadinata mengelompokkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum secara umum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis (efisiensi) dan efektivitas.
Prinsip relevansi meliputi relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal, yakni semacam analisis horizontal, yaitu kesesuaian antara komponen-komponen dalam kurikulum itu sendiri, seperti tujuan, isi, pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, serta minggu, bulan, dan semester yang sama, dalam mata pelajaran yang sama. Relevansi eksternal maksudnya kesesuaian dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, kesesuaian mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya.
Prinsip fleksibilitas maksudnya adalah kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda, artinya kurikulum memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik, karakteristik sekolah, serta kondisi dan potensi daerah.
Prinsip kontinuitas, yakni semacam analisis vertikal, yaitu kesinambungan isi antarsemester, antarkelas, antarsatuan pendidikan, dan antarjenjang pendidikan. Sebaiknya pengembangan kurikulum dilakukan secara serempak dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK, Perguruan Tinggi. Selain dianalisis secara horizontal, juga dianalisis secara vertikal sehingga ada kesinambungan kompetensi mulai dari SD sampai dengan Perguruan Tinggi.
Prinsip praktis atau efisiensi yakni mudah dilaksanakan dengan menggunakan peralatan sederhana dan biaya yang murah. Kurikulum meskipun harus ideal, tetapi juga harus praktis. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan.
Prinsip efektivitas berarti meskipun harus murah, tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Keberhasilan kurikulum juga akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan itu sendiri.
2.        Prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan perumusan tujuan pendidikan, pemilihan isi pembelajaran, pemilihan proses pembelajaran, pemilihan media dan alat pembelajaran, serta pemilihan kegiatan penilaian.
a.    Prinsip berkenaan dengan perumusan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
1)    Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.
2)  Survei mengenai persepsi orang tua/masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
3)  Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
4)        Survei tentang manpower.
5)        Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama.
6)        Penelitian.
b.    Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pembelajaran
Memilih isi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal.
1)    Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
2)        Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
3)     Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. Untuk hal tersebut diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.
c.    Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses pembelajaran
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memper­hatikan hal-hal sebagai berikut:
1)        Apakah proses pembelajaran yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
2)  Apakah proses pembelajaran memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual anak?
3)  Apakah proses pembelajaran dapat menciptakan kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap?
4)        Apakah proses pembelajaran menerapkan pendekatan belajar peserta didik aktif (student active learning)?
5)    Apakah proses pembelajaran menerapkan pendekatan pembelajaran saintis, mulai dari mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta?
d.   Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pembelajaran
Proses belajar-mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.
1)      Alat/media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
2)     Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan: bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
3)   Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
4)        Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
5)        Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.
e.    Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal.
1)        Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest?
2)        Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
3)        Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?
4)        Berapa banyak butir test yang perlu disusun?
5)        Siapa yang mengadministrasikan soal dan hasil penilaian?
Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah- langkah sebagai berikut:
1)  Rumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang akan dinilai, baik ranah pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
2)        Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati.
3)        Hubungkan dengan bahan pelajaran.
4)        Tuliskan butir-butir soal penilaian.
Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1)        Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test?
2)        Apakah akan digunakan rumus atau formula guessing?
3)        Bagaimana mengkonversi hasil test?
4)        Skor standar apa yang akan digunakan?
5)        Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?