Prinsip Pengembangan Kurikulum

PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

A.      Pengertian Prinsip Pengembangan Kurikulum
Secara tata bahasa, prinsip mempunyai arti asas, dasar, keyakinan dan pendirian. Dari pengertian tersebut, dapat kita pahami bahwa kata prinsip menunjuk pada hal yang sangat penting, mendasar, harus diperhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi yang sama. Pengertian dan makna prinsip tersebut menunjukkan bahwa prinsip itu memiliki fungsi yang sangat penting dalam kaitannya dengan keberadaan sesuatu. Melalui pemahaman suatu prinsip, orang bisa menjadikan sesuatu lebih efektif dan efisien. Prinsip juga mencerminkan hakikat yang dikandung oleh sesuatu, baik dalam dimensi proses atau dimensi hasil, dan bersifat memberikan rambu-rambu yang harus diikuti untuk mencapai tujuan secara benar.
Pengembangan kurikulum atau mendesain kurikulum sering dimaknai secara sederhana sebagai kegiatan menghasilkan kurikulum baru atau kegiatan menghubungkan antara satu komponen dengan komponen kurikulum lainnya hingga menemukan kesesuaian. Komponen-komponen tersebut berada di tiga bahkan empat wilayah, yaitu perencanaan, penerapan, evaluasi dan dampak. Kegiatan pengembangan kurikulum juga melibatkan pihak tertentu seperti unsur pendidik, tenaga kependidikan, penentu kebijakan, komite sekolah, orang tua, pakar tetapi pihak masyarakat secara luas.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa prinsip pengembangan kurikulum menunjuk pada pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum, terutama dalam fase perencanaan kurikulum, yang pada dasarnya prinsip-prinsip tersebut merupakan ciri dari hakikat kurikulum itu sendiri. Pelaksanaan pengembangan kurikulum inipun didasakan dalam rangka ingin menghasilkan kurikulum baru atau kegiatan menghubungkan antara satu komponen dengan komponen kurikulum lainnya hingga menemukan kesesuaian berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berlaku.

B.       Macam-Macam Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum Sekolah berdasarkan Permen nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi didasari oleh prinsip-prinsip berikut ini:
1.  Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2.        Beragam dan terpadu.
3.        Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4.        Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
5.        Menyeluruh dan berkesinambungan.
6.        Belajar sepanjang hayat.
7.        Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Berdasarkan hal tersebut di atas Sukmadinata mengelompokkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum secara umum dan khusus. Secara umum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis (efisiensi) dan efektivitas. Adapun secara khusus berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian.
1.        Prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum. Sukmadinata mengelompokkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum secara umum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis (efisiensi) dan efektivitas.
Prinsip relevansi meliputi relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal, yakni semacam analisis horizontal, yaitu kesesuaian antara komponen-komponen dalam kurikulum itu sendiri, seperti tujuan, isi, pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, serta minggu, bulan, dan semester yang sama, dalam mata pelajaran yang sama. Relevansi eksternal maksudnya kesesuaian dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, kesesuaian mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya.
Prinsip fleksibilitas maksudnya adalah kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda, artinya kurikulum memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik, karakteristik sekolah, serta kondisi dan potensi daerah.
Prinsip kontinuitas, yakni semacam analisis vertikal, yaitu kesinambungan isi antarsemester, antarkelas, antarsatuan pendidikan, dan antarjenjang pendidikan. Sebaiknya pengembangan kurikulum dilakukan secara serempak dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK, Perguruan Tinggi. Selain dianalisis secara horizontal, juga dianalisis secara vertikal sehingga ada kesinambungan kompetensi mulai dari SD sampai dengan Perguruan Tinggi.
Prinsip praktis atau efisiensi yakni mudah dilaksanakan dengan menggunakan peralatan sederhana dan biaya yang murah. Kurikulum meskipun harus ideal, tetapi juga harus praktis. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan.
Prinsip efektivitas berarti meskipun harus murah, tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Keberhasilan kurikulum juga akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan itu sendiri.
2.        Prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan perumusan tujuan pendidikan, pemilihan isi pembelajaran, pemilihan proses pembelajaran, pemilihan media dan alat pembelajaran, serta pemilihan kegiatan penilaian.
a.    Prinsip berkenaan dengan perumusan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
1)    Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.
2)  Survei mengenai persepsi orang tua/masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
3)  Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
4)        Survei tentang manpower.
5)        Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama.
6)        Penelitian.
b.    Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pembelajaran
Memilih isi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal.
1)    Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
2)        Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
3)     Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. Untuk hal tersebut diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.
c.    Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses pembelajaran
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memper­hatikan hal-hal sebagai berikut:
1)        Apakah proses pembelajaran yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
2)  Apakah proses pembelajaran memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual anak?
3)  Apakah proses pembelajaran dapat menciptakan kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap?
4)        Apakah proses pembelajaran menerapkan pendekatan belajar peserta didik aktif (student active learning)?
5)    Apakah proses pembelajaran menerapkan pendekatan pembelajaran saintis, mulai dari mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta?
d.   Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pembelajaran
Proses belajar-mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.
1)      Alat/media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
2)     Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan: bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
3)   Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
4)        Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
5)        Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.
e.    Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal.
1)        Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest?
2)        Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
3)        Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?
4)        Berapa banyak butir test yang perlu disusun?
5)        Siapa yang mengadministrasikan soal dan hasil penilaian?
Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah- langkah sebagai berikut:
1)  Rumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang akan dinilai, baik ranah pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
2)        Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati.
3)        Hubungkan dengan bahan pelajaran.
4)        Tuliskan butir-butir soal penilaian.
Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1)        Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test?
2)        Apakah akan digunakan rumus atau formula guessing?
3)        Bagaimana mengkonversi hasil test?
4)        Skor standar apa yang akan digunakan?
5)        Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?

Resume Buku Didaktik Asas-Asas Mengajar

RESUME BUKU 3


A.      Identitas Buku
Judul buku      : Didaktik Asas-Asas Mengajar
Penulis             : Prof. Dr. S. Nasution, M.A.
Penerbit           : PT. Bumi Aksara, Jakarta
Tahun terbit     : 2012
Tebal buku      : 21 cm/192 hlm

B.       Isi Resume
Bab 1 (Mengajar dan Guru) berisi tentang pengenalan kepada pembaca tentang apakah yang dimaksud dengan mengajar dan belajar yang sering disalahtafsirkan oleh sebagian orang bahwa mengajar adalah tentang pengertian bahwa mengajar menyuruh anak menghafal, mengajar adalah menyampaikan pengetahuan, mengajar adalah menggunakan satu metode tertentu. Tetapi dalam buku ini definisi mengajar diartikan dengan mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak, mengajar adalah menyampaikan kebudayaan kepada anak dan mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Pada bab ini juga dipaparkan mengenai bagaimana ciri-ciri guru yang baik yang disukai dan disegani oleh anak dan bagaimana seorang murid menilai gurunya sewaktu mengajar berkaitan dengan kemampuan guru tersebut dalam mengelola kelas yang diajarkannya.
Bab 2 (Mengenal Murid) menceritakan tentang bagaimana perlunya seorang guru untuk mengenal murid-murid yang diajarinya. Untuk mengajar dengan baik diperlukan keterangan yang selengkap-lengkapnya tentang murid. Selain itu, dengan seorang guru mengenal muridnya itu akan menunjukkan kedekatan antara guru dan murid-murid yang diajarinya dan akan menjadi bukti kepedulian seorang guru pada murid yang dididiknya. Ada banyak cara untuk mengenal anak, diantaranya ada yang mudah dilakukan, ada pula yang memerlukan alat serta latihan khusus seperti tes dan interview.
Bab 3 (Hal Belajar) memaparkan beberapa teori tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli yang pada dasarnya belajar itu merupakan perubahan-perubahan dalam sistem urat saraf, penambahan pengetahuan dan sebagai perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Definisi belajar ini bergantung pada teori belajar yang dianut oleh seseorang. Selain itu, belajar juga harus memiliki prinsip dalam proses pelaksanaannya agar tercapai tujuan dari belajar itu sendiri, dan proses belajar juga harus terjadi secara efisien sehingga perlunya bimbingan dan cara belajar yang baik selama proses belajar.
Bab 4 (Motivasi) mengajak pembaca untuk mengetahui dan mengenal motivasi yang diperlukan anak untuk mendorong keinginannya dalam belajar. Dalam hal pertama anak didorong oleh motivasi intrinsik yakni anak ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu. Sebaliknya bila anak belajar untuk mencari penghargaan berupa angka, hadiah, dan sebagainya maka anak didorong oleh motivasi ekstrinsik. Guru dapat menggunakan bermacam-macam motivasi agar murid-murid giat belajar, tetapi tidak semua motivasi itu sama baiknya, malahan ada pula yang dapat merusak.
Bab 5 (Aktivitas) memberitahu bahwa dari semua didaktik, aktivitas merupakan asas yang terpenting karena belajar sendiri merupakan suatu kegiatan. Tanpa kegiatan tak mungkin seorang belajar. Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak-anak di sekolah, tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja. Kegiatan-kegiatan itu dapat diciptakan melalui metode belajar yang digunakan, akan tetapi tidak semua metode memberi kegiatan yang sama banyaknya. Pada umumnya metode kuliah atau ceramah tidak menimbulkan aktivitas yang banyak. Namun demikian murid-murid sekali-kali tidak pasif. Mereka harus berusaha menangkap isi, jalan pikiran dan inti ceramah, menafsirkannya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang ada, membuat catatan, serta memikirkannya secara kritis. Selain itu juga ada metode tanya jawab, diskusi, sosiodrama, dan sebagainya.
Bab 6 (Peragaan) menjelaskan bahwa tujuan dari peragaan ialah memberikan variasi dalam cara-cara seorang guru mengajar, memberikan lebih banyak realitas dalam mengajar itu, sehingga lebih berwujud dan lebih terarah untuk mencapai tujuan pelajaran. Alat-alat peraga sebagai alat pembantu dalam mengajar agar efektif, dalam garis besarnya memiliki faedah atau nilai dalam menambah kegiatan belajar murid, menghemat waktu belajar, menyebabkan agar hasil belajar lebih permanen atau mantap, membantu anak-anak yang ketinggalan dalam pelajarannya, memberikan alasan yang wajar untuk belajar karena membangkitkan minat perhatian (motivasi) dan aktivitas pada murid, serta memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas.
Bab 7 (Individualitas) memberitahu pembaca bahwa dalam proses pembelajaran diperlukan penyesuaian pelajaran dengan perbedaan individual yang dimiliki oleh murid. Keadaan yang ideal ialah memberi pelajaran sedemikian rupa sehingga setiap anak maju menurut kesanggupann masing-masing. Dalam praktek ideal ini tidak dapat atau sangat sukar dilaksanakan sepenuhnya, melihat batas-batas kesanggupan guru. Walaupun demikian kita dapat berusaha untuk memenuhi prinsip individualitas ini dan melepaskan diri dari pengajaran yang uniform semata-mata dengan menggunakan prinsip pengajaran individual, tugas tambahan, pengajaran proyek dan pengelompokkan menurut kesanggupan murid.
Bab 8 (Lingkungan) menerangkan tentang pentingnya hubungan sekolah dengan masyarakat atau lingkungan sekitar. Sekolah didirikan oleh masyarakat untuk mendidik anak menjadi warga negara yang berguna dalam masyarakat. Tetapi disamping itu masyarakat atau lingkungan dapat pula merupakan laboratorium atau sumber yang penuh kemungkinan untuk memperkaya pengajaran. Itu sebabnya setiap guru harus mengenal msyarakat serta lingkungannya dan menggunakannya secara fungsional dalam pelajarannya dengan membawa anak ke dalam lingkungan dan msyarakat untuk keperluan pelajaran (karyawisata, service projects, school camping, survey, interview) atau membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas untuk kepentingan pelajaran (resource persons, benda-benda, seperti pameran atau koleksi).
Bab 9 (Kerjasama (Kooperasi)) menerangkan bahwa sifat gotong royong hendaklah dijadikan suatu prinsip yang mewarnai praktik pengajaran untuk anak-anak. Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk mencapai tujuan bersama dan untuk menghindari adanya sistem persaingan yang dapat menimbulkan perselisihan dan pertengkaran dalam kelas yang memburukkan hubungan antara murid.
Bab 10 (Apersepsi) menjelaskan tentang apersepsi yang merupakan kegiatan menafsirkan atau menyatukan dan mengasimilasi suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki dan dengan demikian memahami dan menafsirkannya. Bahan apersepsi diperlukan untuk menafsirkan tanggapan-tanggapan baru. Itu sebabnya anak-anak harus memiliki sejumlah pengetahuan. Seperti kita ketahui, sebelum anak bersekolah ia telah memiliki banyak pengetahuan akan tetapi yang belum tersusun logis sistematis. Tugas sekolah ialah menyusunnya menurut kategori-kategori tertentu dan menperluas serta memperdalamnya dalam segala macam mata pelajaran.
Bab 11 (Hal Bertanya Dalam Pengajaran) memberitahu tentang pentingnya sebuah pertanyaan dalam proses pembelajaran di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan, kesangsian, keragu-raguan adalah sumber aktivitas mental. Selai itu, pertanyaan juga merupakan stimulus yang mendorong anak untuk berpikir dan belajar. Pada bab ini juga diberikan beberapa ciri-ciri pertanyaan yanng baik dan bagaimana teknik bertanya oleh guru di dalam kelas kepada murid agar pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien, serta bagaimana sikap guru terhadap pertanyaan murid ataupun jawaban murid.
Bab 12 (Menilai Murid) ingin memberitahu bahwa sebagai pendidik kita senantiasa ingin mengetahui apakah dan hingga manakah tercapai tujuan yang kita tetapkan. Untuk itu lebih dahulu kita tentukan apakah yang hendak kita nilai, misalnya keterampilan, pengetahuan, pengertian, sikap, norma, kecepatan bekerja, ketelitian dan sebagainya. Hal ini tentunya memerlukan pemikiran dan perumusan yang tegas. Guru harus mengajar dengan tujuan yang jelas dan harus mengetahui dalam bentuk apakah tujuan itu terwujud. Setelah itu, barulah ia dapat menilainya, hingga manakah tujuan itu tercapai oleh anak. Disamping itu guru harus pula mengetahui alat penilai apakah yang paling serasi untuk mengetahui kemajuan anak dengan berbagai macam alat penilaian seperti tes, observasi, memperhatikan hasil pekerjaan murid, interview, dan lain-lain.

Pada bagian akhir disertakan indeks berupa daftar kata-kata penting yang ada di dalam buku untuk mempermudah pembaca memahami suatu kata yang belum dimengerti dan membantu mempercepat pembaca ketika ingin menemukan suatu topik pembahasan.

Resume Buku Bagaimana Memotivasi Anak Belajar

RESUME BUKU 1


A.      Identitas Buku
Judul buku      : Bagaimana Memotivasi Anak Belajar
Penulis             : Lindy Petersen
Penerbit           : PT. Grasindo, Jakarta
Tahun terbit     : 2009
Tebal buku      : 201 hlm

B.       Isi Resume
Bab 1 (Segelas Coctail Bernama Kelas) mengantarkan pembaca pada suasana suatu kelas yang bisa diibaratkan dengan segelas cocktail, minuman penyegar yang merupakan hasil ramuan berbagai bahan, demikian pula tentang tujuan yang ingin dicapai para guru. Untuk meramunya memang bukan pekerjaan mudah, namun hasil­nya bisa berupa segelas cocktail yang benar-benar lezat.
Bab 2 (Motivasi Belajar: Bahan dan Resepnya) menguraikan resep setapak demi setapak dengan menggunakan model/metode STOP THINK DO untuk memotivasi belajar anak secara individual dengan kepribadian, latar belakang kehidupan, dan permasalahan yang berbeda. Meskipun aneka ragam aspek tersebut secara alami mempengaruhi gaya belajar anak dan ting­kat kemajuan yang mereka capai, namun metode yang diuraikan pada bab ini lebih difokuskan pada rancangan yang bersifat proaktif daripada alasan-alasan reaktif yang didasarkan atas ham­batan pribadi.
Bab 3 (Program Proaktif: Bekerja Menurut Resep) berisi rencana kerja berdasarkan resep STOP THINK DO untuk anak-anak semacam Colin, Alora, Tory, Chen dan Andre yang masing-masing memerlukan penanganan khusus seperti kesu­litan belajar yang khas, sulit berkonsentrasi, anak yang berpotensi intelektual tinggi namun ber­prestasi rendah, kesulitan untuk menerima mata pelajaran tertentu, atau lamban di segala bidang. Kendatipun program STOP THINK DO tidak se­mata-mata diarahkan pada anak yang memerlukan bimbingan khusus, namun metode tersebut sangat membantu murid dan guru agar dapat memfokus­kan energinya secara konstruktif dan proaktif, teru­tama pada tahap awal, sementara itu aspek-aspek lain dari program remediasi sekaligus dieksplorasi.
Bab 4 (Selera Pribadi: Pandangan Saya Tentang Masalah Khusus Yang Dihadapi Anak) memberikan gambaran pandangan pribadi penulis tentang problem signifikan yang dialami anak dalam proses belajar, yang meliputi kesulitan disleksia, ketidakmampuan memusatkan perhatian, serta anak berbakat yang tidak berhasil mencapai prestasi. Bab ini juga membahas tentang efek ke­majuan belajar pada anak-anak dengan tipe pribadi yang khas, yaitu pribadi yang mandiri dan kuat. Selanjutnya disajikan pula pembahasan tentang anak yang mengalami gangguan kelainan pengem­bangan kepribadian yang mencakup bidang yang sangat luas, misalnya sindrom asperger yang secara signifikan mempengaruhi kemampuan anak untuk berinteraksi dan bergaul dalam konteks kelompok sosial. Dalam bab ini juga dibahas pemanfaatan model/metode STOP THINK DO sebagai kerang­ka remediasi, dan bukan hanya sekedar program reme­diasi bagi anak yang memerlukan penanganan khusus.
Bab 5 (Kemampuan Belajar dan Bergaul: Suatu Paduan Yang Serasi) menyajikan penerapan model/metode STOP THINK DO untuk memperbaiki hubungan sosial di dalam kelas, sekaligus meningkatkan motivasi anak untuk belajar di dalam kelas. Pada bagian ini disajikan juga data riset tentang keberhasilan pen­dekatan ini dalam mengembangkan hubungan yang positif di sekolah-sekolah. Dengan menekankan adanya keterkaitan antara keberhasilan dalam belajar dengan terbinanya hubungan yang baik di dalam kelas, metode STOP THINK DO dapat di­gunakan oleh suatu kelompok kecil, tanpa me­mandang jumlah peserta maupun tujuannya.

Pada bagian akhir disertakan lampiran berupa formulir isian untuk mengaplikasikan tahapan-tahapan resep STOP THINK DO, termasuk formu­lir bagi murid dan guru guna mengidentifikasi masalah serta menemukan solusinya, kemudian menyimpulkan tindakan remediasi individual yang diperlukan, rencana pengembangan atau rencana konsentrasi, dan rencana kerja kelompok.

Resume Buku Belajar Secara Efektif

RESUME BUKU 2


A.      Identitas Buku
Judul buku      : Belajar Secara Efektif
Penulis             : Drs. Thursan Hakim
Penerbit           : Puspa Swara, Jakarta
Tahun terbit     : 2000
Tebal buku      : 20,5 cm/99 hlm

B.       Isi Resume
Bab 1 (Belajar dan Prinsip Belajar) memberikan pengertian mengenai belajar, sebagai awal dari langkah kita dalam memahami cara belajar dan mengatasi kesulitan belajar, tentu saja kita harus memahami pengertian belajar tersebut. Dimana belajar itu merupakan suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir dan lain-lain kemampuan. Jika di dalam suatu proses belajar seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau dengan kata lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar. Pada bab ini juga disajikan prinsip yang harus ada dalam belajar, diantaranya bahwa belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas, proses belajar akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada situasi problematis, belajar dengan pengertian akan lebih bermakna daripada belajar dengan hapalan, belajar merupakan proses yang kontinu, belajar memerlukan kemauan yang kuat, keberhasilan belajar ditentukan oleh banyak faktor, belajar secara keseluruhan akan lebih berhasil dari pada belajar secara terbagi-bagi, proses belajar memerlukan metode yang tepat, belajar memerlukan adanya kesesuaian antara guru dan murid, dan belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran itu sendiri.
Bab 2 (Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar) memperkuat penjelasan pada bab 1 tentang prinsip belajar bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor internal berkaitan dengan faktor yang ada pada diri individu itu sendiri berupa faktor biologis atau jasmaniahnya dan faktor psikologis atau rohaniahnya, kemudian faktor ekstenal berkaitan dengan faktor yang ada diluar diri individu itu sendiri berupa faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan faktor waktu. Faktor-faktor tersebut sangat perlu untuk diketahui atau dipahami agar bila pada suatu waktu mengalami kesulitan atau hambatan dalam proses belajar akan lebih mudah mengetahui sumber kesulitan atau hambatan dalam proses belajar tersebut.
Bab 3 (Masalah Kesulitan Belajar) menjelaskan tentang kesulitan belajar yang merupakan suatu kondisi yang menimbulkan hambatan dalam proses belajar seseorang. Untuk menentukan apakah seorang siswa atau mahasiswa mengalami kesulitan belajar atau tidak diperlukan suatu tindakan khusus yang disebut diagnostik kesulitan belajar yaitu suatu usaha yang dilakukan untuk menentukan apakah seorang siswa atau mahasiswa mengalami kesulitan belajar atau tidak dengan cara melihat indikasi-indikasi yang berpotensi mempengaruhi proses belajar siswa tersebut. sesudah seorang siswa atau mahasiswa dipastikan mengalami kesulitan belajar, tindakan selanjutnya adalah melakukan usaha mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Bab 4 (Membangkitkan Motivasi Belajar) memberikan sebuah pengertian tentang motivasi yang merupakan suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Membangkitkan motivasi belajar siswa itu sangat penting karena semakin banyak motivasi yang ada pada diri seorang siswa, akan semakin kuatlah motivasi belajarnya untuk lebih rajin belajar, sehingga mereka mampun mengatasi kesulitan belajar yang mereka alami dan membantu mereka mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Bab 5 (Mengatur Waktu Belajar) menerangkan tentang pentingnya pengaturan waktu dalam belajar agar kegiatan belajar lebih teatur dan terstruktur dengan mengatur waktu belajar yang tepat, belajar terjadwal dan belajar setiap ada kesempatan. Dalam hal ini dibagi rata antara waktu belajar dan waktu istirahat sehingga tidak akan mengganggu aktivitas belajar itu sendiri karena jadwal yang teratur.
Bab 6 (Belajar Sendiri dan Belajar Berkelompok) dalam buku ini bisa dibilang kelanjutan dari bab 5 sebelumnya, dalam mengatur waktu belajar, adakalanya anak harus belajar sendiri tetapi ada suatu waktu juga anak diharuskan untuk belajar berkelompok dengan teman-temannya yang lain, baik dalam bentuk kerja kelompok maupun diskusi kelompok. Hal ini bertujuan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang lebih terbuka dan meningkatkan motivasi anak untuk belajar karena rasa tanggung jawab bersama dengan menekankan prinsip kerja kelompok ini.
Bab 7 (Belajar Di Sekolah Atau Di Kampus) memberitahukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar di sekolah atau  di kampus yaitu tegaknya disiplin sekolah secara konsisten, adanya guru atau dosen yang berkompeten, kondisi gedung sekolah atau kampus, adanya fasilitas belajar yang memadai dan waktu belajar yang ditetapkan di sekolah atau kampus. Sehingga dengan mengetahui faktor-faktor tersebut dan bagaimana kualitas serta kuantitas dari faktor-faktor tersebut dapat dilakukan antisipasi masalah belajar yang dialami siswa atau mahasiswa di sekolah atau di kampus tersebut.
Bab 8 (Beberapa Cara Belajar Yang Berhasil) menjelaskan tentang beberapa cara belajar yang berhasil yaitu dengan cara belajar ilmu pasti dan ilmu sosial serta bagaimana mengembangan cara belajar yang berhasil tersebut dengan menjalani dengan teratur proses pembelajaran ilmu pasti dan ilmu sosial dipelajari.
Bab 9 (Menghadapi Pengajar Dan Pelajaran Yang Tidak Disenangi) menyajikan bagaimana cara dalam menghadapi pengajar atan pelajaran yang tidak disenangi sehingga tidak akan mempengaruhi kegiatan belajar yang dilaksanakan dan tidak akan menemui hambatan dalam proses penerimaan pelajaran yang diberikan oleh pengajar yang memberikan pelajaran walaupun pengajar atau pelajaran itu tidak disenangi oleh siswa atau mahasiswa yang bersangkutan.
Bab 10 (Masalah Kejenuhan Belajar) menerangkan tentang masalah kejenuhan belajar siswa yang disebabkan oleh cara atau metode belajar yang tidak bervariasi, belajar yang hanya di tempat tertentu, suasana belajar yang tidak berubah-ubah, kurangnya aktivitas rekreasi atau hiburan, serta adanya ketegangan mental yang kuat dan berlarut-larut pada saat belajar. Pada bab ini juga dipaparkan mengenai bagaimana cara mencegah dan mengatasi kejenuhan belajar yang dialami siswa tersebut, diantaranya belajar dengan cara atau metode yang bervariasi, mengadakan perubahan fisik di ruang belajar, menciptakan suasana baru di ruang belajar, melakukan aktivitas rekreasi atau hiburan, dan hindarkan adanya ketegangan mental saat belajar, serta beberapa alternatif lainnya.
Bab 11 (Konsentarasi Belajar) menerangkan tentang konsentrasi belajar yang merupakan suatu proses pemusatan pikiran kepada suatu objek tertentu. Tentunya dalam proses belajar siswa ada banyak sekali faktor-faktor yang menjadi penyebab gangguan konsentrasi siswa dan untuk itu diperlukan cara untuk mencegah dan mengatasi gangguan konsentrasi belajar tersebut dengan menikmati kegiatan yang sedang dilakukan, selain itu juga dapat dilakukan dengan menerapkan pelatihan meningkatkan konsentrasi belajar tentang bagaimana sikap dan tahap-tahap yang harus dilalui dalam pelatihan tersebut agar siswa dapat mengontrol konsentrasinya terhadap pembelajaran. Pada bab ini juga dipaparkan mengenai bagaimana penerapan pelatihan konsentrasi tersebut.
Bab 12 (Menghadapi Tes Atau Ujian) menyajikan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan ujian, tentunya masalah-masalah itu memerlukan beberapa cara agar dapat mencegah dan mengatasi masalah-masalah ujian tersebut sehingga siswa ataupun mahasiswa tidak perlu merasa cemas atau bingung lagi dalam mencari solusi ketika menghadapi masalah dalam menghadapi tes atau ujian. Pada bab ini dijelaskan secara runtut mengenai hal-hal tersebut oleh Drs. Thursan Hakim.

Bab 13 (Menentukan Jurusan Dan Cita-Cita) menyajikan tentang hal-hal apa saja yang menentukan pemilihan jurusan bagi seorang siswa atau mahasiswa yaitu berkaitan dengan kepribadian siswa atau mahasiswa yang bersangkutan, pengaruh lingkungan keluarga, pengaruh lingkungan sekolah, pengaruh lingkungan masyarakat, serta informasi studi lanjutan dan pekerjaan atau jabatan. Adapun kiat memilih jurusan yang disajikan pada bab ini yaitu dengan memahami bakat dan minat yang dimiliki oleh siswa atau mahasiswa yang bersangkutan, serta menentukan cita-cita apa yang diinginkan di masa depan sehingga dapat mengarahkan jurusan apa yang ingin diambil untuk tujuan masa depan siswa atau mahasiswa yang bersangkutan tersebut.

Biografi KH. Dr. Idham Chalid

BIOGRAFI KH. DR. IDHAM CHALID

KH. Dr. Idham Chalid, Tokoh Pahlawan Nasional ini merupakan anak ke-4 dari 8 bersaudara yang lahir dari pasangan H. Muhammad Chalid dan Hj. Umi Hani di sebuah desa kecil bernama Setui, Kalimantan Selatan pada 5 Muharram 1341 H. Oleh guru SD beliau, tanggal itu dihitung bertepatan dengan 27 Agustus 1922.
Tahun 1934 setamatnya dari Sekolah Melayu, Idham muda dimasukkan ayahnya ke Madrasah Islam yang didirikan dan dipimpin oleh Tuan Guru Haji Abdurrasyid, seorang alim ulama besar lulusan kampus terkemuka di dunia, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Awal pertama Idham masuk pada lembaga pendidikan ini, nama sekolah ini adalah “Al-Madrasatur Rasyidiyah”. Saat itu pimpinannya adalah KH. Juhri Sulaiman, KH. Abdurrasyid atau Muallim Wahid sudah berpulang ke rahmatullah. Idham menamatkan pendidikannya di Al-Madrasatur Rasyidiyah pada 1938 saat berusia 16 tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Ma’had Rasyidiyah beliau melanjutkan pendidikan ke pesantren Gontor, Jawa Timur. Pembelajaran yang beliau dapatkan selama di Al-Madrasatur Rasyidiyah dan di Gontor tidak jauh berbeda, namun antara keduanya saling mempengaruhi satu sama lain, saling mengisi dalam menempa bentuk dan kepribadian Idham Chalid. Setahun kemudian, akhir tahun 1940 Idham dan kawan-kawan menamatkan pendidikan Kweek School Islam Onderbouw. Lulusan Gontor saat itu meski tidak mengikuti ujian persamaan dengan Madrasah Aliyah di bawah naungan Kementerian Agama, tetap bisa diterima di seluruh negara Islam.
Pada 1957, Bapak KH. Idham Chalid melakukan kunjungan kenegaraan di Mesir dan menerima penganugerahan gelar, Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Pada Sabtu, 2 Maret 1957, dilangsungkan penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada KH. Idham Chalid di Aula University Al-Azhar Mesir. Penganugerahan ini diberikan saat Al-Mukarram Prof. Dr. Syaikh Mahmud Syaltut menjabat sebagai Rektor Universitas Al-Azhar. Surat Keputusan penetapan pemberian gelar tersebut dibacakan oleh Direktur Universitas al-Azhar yang pimpinannya adalah Wakil Universitas Al-Azhar Kairo al-Mukarram Syekh Noor Al-Hasan.
Diantara riwayat pekerjaan beliau adalah, beliau pernah menjadi Guru Madrasah Pondok Modern Gontor Ponorogo Bagian Tinggi (Bovenbouw Kweek School Islam)pada tahun 1940, Direktur Normal Islam School, Amuntai Kalimantan Selatan pada 1944, beliau juga berperan dalam banyak bidang politik lainnya. Selama beliau hidup banyak tanda penghargaan dan tanda jasa yang beliau terima, seperti Lencana Penggerak Revolusi 1945, Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, Bintang Gerilya Kalimantan Selatan dari Presiden Soekarno, 1956, Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Mesir, dalam Pengetahuan Islam dan Perdjuangan Islam, 1957, dan masih banyak lagi tanda jasa yang beliau terima.

KH. DR. Idham Chalid berpulang ke rahmatullah pada Ahad 11 Juli 2010 pukul 08.00 WIB, dalam usia 88 tahun, di rumah beliau Jl. RS. Fatmawati No. 45 Jakarta Selatan, dan dikebumikan di Komplek Perguruan Darul Qur’an, Cisarua Bogor, sesuai dengan amanah beliau yang minta dimakamkan di Darul Qur’an. Prosesi pemakaman dilangsungkan mulai pukul 12.00. KH. Idham pernah berpesan kepada putra-putrinya untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.